Tio

Just wanna share my experience

Nomor Induk Kependudukan pada e-KTP, Kelemahan dan Harapan (Berkaca pada Negara Swedia)


Terlepas dari polemik untuk sisi teknologinya, isu apakah e-KTP dapat difoto copy atau tidak atau sangkaan korupsi dananya, ada hal lain yang tidak kalah pentingnya yang melekat di dalam e-KTP tersebut yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat dan jarang dibahas yakni Nomor Induk Kependudukan (NIK). Meski ada suara skeptis mengenai dana proyek ini, pengadaan sistem Single Identity Number (SIN) ini memang sebuah terobasan baru yang jika dapat diimplementasikan dengan benar maka dipastikan akan menguntungkan rakyat.

Nomor Induk Kependudukan  (NIK)

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 yaitu tentang administrasi kependudukan Nomor Induk Kependudukan  (NIK)  adalah nomor identitas penduduk yang bersifat unik atau khas, tunggal dan melekat pada seseorang yang terdaftar sebagai penduduk Indonesia dan berlaku seumur hidup dan selamanya. NIK ini ditentukan dan dikelola oleh Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil dari Kementerian Dalam Negeri.

NIK terdiri dari 16 digit dimana 6 digit pertama adalah informasi mengenai tempat dimana NIK diterbitkan (2 digit kode provinsi, 2 digit kode kota/kabupaten, dan 2 digit kode kecamatan). Enam digit selanjutnya merupakan tanggal lahir dalam format tanggal bulan tahun (untuk wanita tanggal ditambah 40). Sedangkan 4 digit terakhir merupakan nomor urut yang dimulai dari 0001.

NIK diharapkan akan tercantum setiap Dokumen Kependudukan dan dijadikan dasar penerbitan KTPpasporSIMnomor pokok wajib pajakpolis asuransi, dan penerbitan dokumen identitas lainnya (1).

Salah satu prinsip dari Single Identity Number yang ideal adalah harus unik dan khas dan tidak tergantung akan atribut dari pemilik yang berubah. Yang menjadi permasalahan dalam NIK yang digunakan saat ini adalah 6 digit awal yang merupakan kode lokasi dimana NIK diterbitkan. Hal ini menjadi rancu antara tempat lahir atau tempat diterbitkan nya NIK. Di website Kemendagri (1) diberikan contoh sebagai berikut:

Sebagai contoh, misalkan seorang perempuan lahir di Kota Bandung tanggal 17 Agustus 1990 maka NIK-nya adalah: 10 50 24 570890 0001. Apabila ada orang lain (perempuan) dengan domisili dan tanggal lahir yang sama mendaftar, maka NIK-nya adalah 1050 24 570890 0002.”

Dari contoh ini dapat kita simpulkan bahwa 6 digit kode awal adalah kode tempat lahir. Jika merujuk kepada penjelasan sebelumnya di website yang sama, 6 digit awal tergantung dimana orang tersebut berdomili pada saat NIK diterbitkan. Pada contoh tadi perempuan tersebut belum tentu akan tetap tinggal di tempat kelahirannya.

Jika 6 digit awal tersebut adalah kode untuk domisili, bagaimana kalau orang tersebut pindah kota atau provinsi, misal dari Jakarta Pusat kode 01 60 ke kabupaten Jaya Papua kode 25 01, 6 digit kode awal menjadi tidak relevan lagi dan memungkinkan untuk membuat kebingungan dalam administrasi. Padahal Pemerintah sudah menyatakan NIK tidak berubah meski domisili berpindah (2).

Janto Marzuki yang berpengalaman puluhan tahun menjadi database designer perusahaan raksasa Ericsson dan kini telah menetap di Swedia mengungkapkan bahwa  konstruksi dari NIK dengan segala kelemahan diatas jika dilihat dari sudut database design menjadikan NIK  tidak efektif.

e-KTP seumur hidup, bisakah?

Departmen Dalam Negeri mengusulkan bahwa e-KTP belaku seumur hidup. Untuk menilai apakah e-KTP kita dapat digunakan seumur hidup, mari kita lihat keterangan yang tertera didalamnya: Nama, tempat tanggal lahir, alamat, status pernikahan, agama, pekerjaan. Keempat data terakhir adalah data yang dapat berubah-rubah terutama alamat serta pekerjaan. Jika e-KTP berlaku seumur hidup, seseorang akan dapat berstatus mahasiswa abadi.

Terlepas dari kendala dan kekurangan diatas, jika sistem NIK ini telah  berjalan akan banyak sekali keuntungannya dari sistem administrasi yang lebih efisien hingga peningkatan kesehatan masyarakat jika NIK diintegrasikan dengan berbagai data base kesehatan.

Tidak semua negara maju mengaplikasikan sistem SIN ini. Jika ingin melihat bagaimana sistem SIN, kita harus menengok negara-negara Skandinavia yang lebih dari 60 tahun yang lalu telah mengaplikasikan sistem SIN yang lebih dikenal dengan istilah Personal Identity Number.

Personal Identity Number (PIN) di Swedia

PIN di Swedia laksana nomor keramat karena di semua sistem administrasi pasti digunakan. Bahkan untuk menyewa DVD, buku atau berlangganan telepon diperlukan nomor ini. Personal Identity Number (personnummer dalam bahasa Swedia) mulai diperkenalkan pada tahun 1947 kemudian pada tahun 1967 disempurnakan. PIN ini terdiri dari 10 angka (lebih mudah diingat dibandingkan NIK) yang terdiri dari tiga bagian, tanggal lahir (4 digit, tahun, bulan, tanggal), nomor urut lahir (3 digit) dan 1 digit untuk pengecekan. Contoh seorang laki-laki yang lahir pada tanggal 23 Agustus 1964 memiliki PIN: 640823-3234. 323 adalah nomor urut lahir (untuk laki laki digit terakhir ganjil dalam conton ini 3) dan digit terakhir adalah checking digit untuk mengetes kebenaran PIN tersebut. Setiap orang yang lahir di Swedia dan pendatang yang akan tinggal lebih dari satu tahun akan mendapatkan PIN (3).

PIN Swedia pada awalnya dikelola oleh pemda, namun mulai tahun 1991 dikelola oleh kantor pajak nasional (skatteverket). PIN atau personnummer ini digunakan luas sebagai kode identitas tidak hanya dalam catatan kependudukan, tapi juga untuk sistem perpajakan, perbankan, asuransi, kesehatan, SIM, pasport dan pendidikan. Setiap orang yang memiliki PIN maka akan ditanggung oleh asuransi nasional serta mendapatkan pendidikan gratis (dibayar dari pajak).

PIN ini menjadi nomor kunci (key number) yang menghubungkan antara berbagai data nasional. Di bidang kesehatan, PIN menghubungkan berbagai catatan/database (register data) antara lain catatan pasien, kanker, kecelakaan, kematian, pemberian resep obat, dan masih banyak lagi. Dengan adanya sistem ini, kita dengan mudah dapat mengikuti pasien serta catatan medis mereka.

Data yang ada dari sistem ini laksana harta karun bagi para peneliti di seluruh dunia, karena tanpa perlu membuat percobaan atau study lapang lagi, sesungguhnya Swedia laksana laboratarium besar yang dapat langsung dianalisa datanya. Sebagai contoh, jika ada seorang terdiagnosa terkena kanker paru paru, kita bisa merunut (trace) medical record, untuk mengetahui perkiraan penyebabnya, baik itu life style, lokasi tempat tinggal (dengan menautkannya dengan catatan kependudukan), pekerjaan (data kementrian pekerjaan), dan sebagainya. Bahkan kita bisa merunutnya dengan riwayat dari orang tua atau saudaranya yang mungkin penyakit tersebut diturunkan. Masih banyak lagi tentunya keuntungan dari PIN ini.

Di bidang perbankan, setiap kita membuka rekening, kita diharuskan memiliki PIN, sehingga dengan mudah kita bisa mengetahui jika ada seorang oknum DPR atau pemerintah yang memiliki rekening gendut. Hal ini akan mengurangi tindak kejahatan perbankan. Tapi mungkin yang di Indonesia perlu adanya desakan dari masyarakat dalam implementasinya.

Bagaimana kalau ada data yang berubah?

Kartu identitas (ID Card) di Swedia, hanya berisikan data-data yang jarang/ tidak berubah seperti nama, tempat dan tanggal lahir serta tanggal berlaku. Alamat tidak disertakan karena atribut yang satu paling mungkin berubah. Lalu bagaimana kalau data-data lain diperlukan, seperti jumlah anggota keluarga (Kartu Keluarga), domisili dan perkejaan? Informasi tersebut dengan mudah kita dapatkan dengan langsung datang ke kantor pajak atau online dalam bentuk printout yang dikenal dengan istilah Personbevis (surat keterangan diri). Personbevis  berisi keterangan lengkap kita ataupun sekeluarga, seperti Kartu Keluarga. Personbevis  berlaku hanya 3 bulan karena  informasi di dalamnya bisa berubah-rubah (seperti alamat).  Tapi jangan takut, kita bisa memintanya lagi.  Dengan system seperti ini ID card dapat berlaku lebih lama, sedangkan untuk data yang berubah-rubah kita bisa menggunakan Personbevis.

PIN di negara-negara Skandinavia lainnya.

Negara-negara tetangga Swedia juga memiliki sistem yang sangat mirip dan diterapkan di waktu yang hampir bersamaan (tahun 1960an) sehingga menjadi rujukan internasional oleh PBB (4). Sistemnya hampir sama dimana 6 digit awal adalah kode tanggal lahir dan 4 digit (Denmark) atau 5 digit (Finland, Norwegia) terakhir adalah kode lainnya (nomor urut dan kode kontrol).

Dengan berlimpahnya data dari berbagai macam database kesehatan yang terkoneksi dengan PIN tersebut, negara Skandinavia mampu meningkatkan kualitas kesehatan serta kesejahteraan penduduknya. Sebuah penelitian di Denmark menunjukkan bahwa pasien kanker akan memiliki peluang hidup lebih lama jika kemoterapi diterapkan semenjak diagnose kanker dibandingkan jika kemoterapi diberikan setelah pesien tersebut berada pada stage kanker tertentu.

Study lainnya dibidang psikologi masih di Denmark, mengungkapkan bahwa factor lingkungan seperti infeksi virus sebelum kelahiran serta musim pada saat kelahiran mempengaruhi perkembangan penyakit Schizophrenia dan Bipolar Disorder (5).

Berdasarkan data register kembar (Twin Register) Swedia,  bayi dengan berat  saat lahir rendah lebih rentan terhadap penyakit asma, sedangkan bayi dengan berat berada pada risiko yang lebih besar eksim pada masa anak-anak (6).

Masih banyak lagi hasil temuan yang semuanya menggunakan database yang terkoneksi dengan PIN ini. Semoga dengan adanya NIK ini kedepannya Indonesia mampu meningkatkan dan meratakan kesejahteraan rakyatnya. Masih panjang perjalanan penyempurnaan system e-KTP ini. Kita masyarakat diharapkan mampu memantau implementasi program yang sangat bermanfaat ini.

Referensi:

  1. http://www.kemendagri.go.id/article/2010/02/09/nomor-induk-kependudukan.
  2. http://www.antaranews.com/view/?i=1190049256&c=NAS&s.
  3. Jonas F. Ludvigsson, Petra Otterblad-Olausson, Birgitta U. Pettersson, and Anders Ekbom. 2009. The Swedish personal identity number: possibilities and pitfalls in healthcare and medical research. Eur J Epidemiol. 24(11): 659–667 (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2773709/).
  4. Register-based statistics in the Nordic countries: Review of best practices with focus on population and social statistics, United Nations, New York & Geneve, 2007.
  5. Lone Frank. 2000. When an Entire Country Is a Cohort. Science 31. Vol. 287 no. 5462 pp. 2398-2399 http://www.sciencemag.org/content/287/5462/2398.summary.
  6. http://www.ashwellpharmacy.co.uk/index.php?option=com_static&task=view&id=472&Itemid=15

http://news.detik.com/read/2013/05/24/205633/2255567/103/e-ktp-kelemahan-dan-harapan-berkaca-pada-swedia?9922022

May 24, 2013 Posted by | education | , | Leave a comment

Back for good or stay?


Setiap mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri pasti ingin berkontribusi dalam pembangunan di tanah air tercinta. Namun ada berbagai tantangan serta pertimbangan yang kadang membuat mereka gamang untuk kembali. Diskusi bulanan yang diadakan oleh PPI Stockholm beberapa waktu lalu berusaha membahas berbagai tantangan  tersebut.

Dari diskusi tersebut banyak tantangan mencuat, seperti ilmu yang kita dapatkan selama studi belum dapat sepenuhnya diimplementasikan di negeri kita. Tantangan lain adalah penempatan kita yang kurang sesuai dengan keahlian. Ada beberapa kisah dimana ilmu dan pos dimana kita ditempatkan jauh panggang dari api.

Bagi yang sudah berkeluarga, setelah merasakan pendidikan yang bagus dan gratis di negeri orang, tentu berharap hal yang sama di negeri kita. Belum adanya perhatian yang besar dari pemerintah terhadap riset membuat beberapa ilmuan berfikir ulang untuk kembali ke Indonesia. Suasana kerja yang sangat berbeda juga menjadi kendala lain. Bahkan ada situasi dimana kembalinya kita malah dianggap sebagai saingan oleh rekan-rekan di tanah air.  Masih banyak lagi tantangan yang ada yang semuanya menjadi “culture shock” bagi mereka yang ingin “pulang kampung”.

Lalu apa yang harus dilakukan? Pulang tanpa persiapan, alias terjun bebas? Atau tetap tinggal dan berkarir di negeri orang? Diskusi mengerucut kepada beberapa pilihan berikut.

Bagi yang memiliki tanggung jawab di tanah air dan harus langsung kembali setelah selesai kuliah,  maka selain meningkatan keilmuan serta wawasan selama studi kita juga harus tetap menjalin jaringan “network”  kepada rekan kuliah, para dosen terutama di tempat kita studi, PPI, serta organisasi profesi. Tetap berkomunikasi agar kedepannya akan memungkinkan untuk bisa saling bertukar informasi, ilmu, teknologi, dan bahkan berkolaborasi.

Namun jika kita masih dapat tinggal sedikit lebih lama janganlah pulang dahulu. Bekerjalah dahulu  atau melanjutkan studi lebih lanjut untuk mendapatkan ilmu yang mumpuni, pengalaman bekerja, dan jaringan internasional yang dapat dijadikan modal saat kembali ke tanah air.

Jika memang terpaksa menetap di luar negeri, karena merasa ilmu lebih optimal di sana, tetaplah berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung kepada Indonesia dari luar. Banyak cara yang dilakukan para diaspora sebagai wujud cintanya terhadap Indonesia: memberi donasi/funding, memberi beasiswa kepada siswa asal Indonesia, berkolaborasi dengan para ilmuan di tanah air dan masih banyak lagi.

Diskusi hangat di Stockholm yang dingin ini memberi gambaran baik kepada mahasiswa baru maupun lama akan perlunya bekal selain ilmu yang didapat di bangku kuliah. Slide presentasi dari diskusi tersebut dapat dilihat disini.

January 16, 2013 Posted by | education, Study abroad | , , | 5 Comments

Interface for illustrating the central limit theorem


Below is an example of an R interface developed using tcl/tk package for showing central limit theorem.

 

 

The code can be obtained here.

 

November 8, 2012 Posted by | education, R, Statistics | , | 1 Comment

Classification using L1-Penalized Logistic Regression


There are various classification algorithms that have been developed in different fields. Some algorithms are commonly used in genomics such as linear discriminant analysis (LDA), nearest neighbor classifier and logistic regression. Many authors such as Gohlmann and Talloen (2009), and Lee (2005) have comprehensively reviewed and compared of these algorithms.
Logistic regression is a supervised method for binary or multi-class classification (Hosmer and Lemeshow 1989). Because it is a simple, flexible and straightforward model that is easy to extend, the extensions of logistic regression
have been widely used in genomics research (e.g., Liao and Chin, 2007, and Sun and Wang, 2012).
In high-dimensional datasets such as in microarray settings where usually there are more variables than the observations and variables are correlated (multicolinierity), the classical logistic regression would perform badly and provide inaccurate estimates. It would give a perfect fit to the data with no bias and high variance which can lead to bad prediction (overfitting). In order to prevent this problem, a penalty for complexity in the model should be introduced.

The presentation which can be viewed here shows a short overview of L1 penalization logistics regression.  Example of the application of this method in genomic is to define  candidate classifiers genes to classify two different groups, e.g., cancer and non-cancer group.

References 

• Lee JW, et al, 2005. An extensive comparison of recent classification tools applied to microarray data. Computational Statistics & Data Analysis. 48:869-885.
• Hosmer, D.W., Lemeshow, S., 1989. Applied Logistic Regression. Wiley Series in Probability and Mathematical Statistics. Wiley, New York, NY.
• Sun, H. andWang, S. 2012. Penalized logistic regression for high-dimensional DNA methylation data with case-control studies Bioinformatics. 28(10):1368-1375
• Tibshirani, R. 1996. Regression shrinkage and selection via the Lasso. Journal of the Royal Statistical Society Series B (Methodological). 58:267- 288.
• Goeman, J.J. 2010. L1 Penalized Estimation in the Cox Proportional Hazards Model. Biometrical Journal. 52 (1): 70-84.
• Gohlmann, H., and, Talloen, W. 2009. Gene Expression Studies Using Affymetrix Microarrays. Chapman & Hall/CRC.
• Liao, J.G. , and Chin, K.V. 2007. Logistic regression for disease classification using microarray data: model

October 7, 2012 Posted by | Bioinformatics, education, Statistics | , , , , , , | 6 Comments

Carilah Ilmu Sampai ke Negeri Tintin


REPUBLIKA.CO.ID,Semua orang pasti kenal dengan sosok wartawan berjambul, Tintin yang selalu ditemani anjing setianya, Snowy dan karibnya Kapten Haddock. Namun tidak semua orang tahu bahwa karakter tersebut berasal dari sebuah negara di tengah benua Eropa yang paling banyak menghasilkan komik per kapitanya.
Negara tersebut adalah Belgia dengan ibu kotanya Brussel yang juga merupakan ibu kota dari Uni Eropa. Belgia mungkin kurang dikenal sebagai tujuan belajar (dan juga tujuan wisata) bagi kita di Indonesia dibandingkan  dengan negara sekitarnya seperti Belanda, Jerman,  Prancis ataupun Inggris.
Namun ini  bukan berarti pendidikan di  Belgia, tertinggal dibandingkan negara-negara lainnya. Berdasarkan data terbaru yang di publikasikan oleh “U21 Ranking of National Higher Education Systems”, pendidikan tinggi Belgia bertengger di posisi 13 diatas Jerman, Prancis dan Jepang (http://www.universitas21.com/news/details/61/u21-rankings-of-national-higher-education-systems-2012)

Meski dari ranking tersebut, Belgia sedikit berada di bawah Belanda dan Inggris, namun ada hal lain yang membuat  kuliah di Belgia cukup menarik mahasiswa dari seluruh dunia: biaya pendidikan yang cukup murah.

More detail:

http://www.republika.co.id/berita/komunitas/perhimpunan-pelajar-indonesia/12/07/23/m7m6j0-carilah-ilmu-sampai-ke-negeri-tintin

July 24, 2012 Posted by | education, Scholarship, Study abroad | , , , , , | 2 Comments

Tantangan membawa keluarga selama kuliah di Eropa


Tulisan ini sebenarnya sudah saya rencanakan untuk saya buat berbulan-bulan lalu sebagai respon dari banyak pertanyaan di milis beasiswa mengenai proses dan kendala dalam membawa keluarga untuk menemani kita kuliah.

Membawa keluarga di negeri orang dimana semua serba baru dan mungkin tiada sanak saudara harus dipersiapkan dan perlu perencanaan. Saya sendiri termasuk yang pernah “kurang” perencanaan dan sangat “bernafsu” untuk membawa keluarga secepatnya. Sehingga ada beberapa perkiraan yang meleset.  Dari pengalaman tersebut, berikut hal hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan untuk mengukur visibilitas membawa keluarga untuk menemani kita selama studi di luanr negeri terutama eropa:

1.    Teliti seluk beluk beasiswa, kehidupan, serta biaya hidup.

Membawa keluarga tidak terlepas dari factor biaya yang tentu merupakan hal yang krusial. Jika kita memiliki support dari dalam negeri tidak merupakan masalah. Namun jika kita tergantung pada beasiswa, ada banyak hal yang harus diperhatikan.

Yang pertama yakni jumlah beasiswa. Apakah beasiswa meliputi biaya keluarga (tunjangan), ongkos pesawat dll. Untuk beasiswa master yang di eropa sepengetahuan saya jarang yang mendapatkan tunjangan keluarga. Untuk program PhD dgn funding dari kampus (project based), karena dihitung bekerja, di beberapa Negara istri ataupun anak dapat mendapatkan tunjangan yang cukup.

Yang kedua, teliti dan pelajari biaya hidup (contoh:klik) untuk keluarga dan bandingkan dengan jumlah beasiswa yang akan diterima. Kadang kita serta merta hanya men “convert” beasiswa dan langsung dibandingkan degan pengeluaran di Indonesia. Menurut saya ini hal yng sangat penting, jangan sampai salah perkiraan. Beberapa komponen yg harus ditanyakan:

a. Akomodasi, tergantung dgn lokasi/kota/Negara.

b. Makanan

c. Asuransi, di beberapa Negara asuransi cukup mahal dan dihitung per anggota keluarga/anak2 dihitung (spt di Belanda). Di Belgia, untuk mahasiswa asuransi cukup murah dan dihitung per keluarga (jika istri tdk bekerja).

d. Transportasi. Ini cukup mahal di beberapa Negara, meski di bbrp Negara spt jerman, swedia dan belgia ada tiket reduction bagi student.

2.    Part time job? Is it possible?

Untuk mendapatkan tambahan salah satunya dengan mencari part time job.  Carilah info apakah memungkinkan untuk melakukan hal ini. Yang saya maksud “memungkinkan” disini adalah memungkinkan (a) “in term of time” , karena kesibukan kuliah sering kita tidak punya waktu untuk part time job. (b) “Job availability”di beberapa tempat mendapatkan side job cukup sulit. Waktu “summer” mungkin waktu dimana banyak kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan, seperti terlihat disini. Selain side job diluar kampus, kita bisa juga mungkin mendapatkan tambahan dengan menjadi teaching assistant.

Cari informasi juga apakah untuk pasangan juga memungkin bisa mencari pekerjaan. Di Belgia, pasangan (spouse) dari student tidak dapat mendapatkan “working permit”. Kecuali spouse nya student juga. Namun kadang bisa juga bekerja secara “illegal”.

3.    Can we save? Or spend our saving…..?

Tentu selama studi yang kita inginkan adalah penyerapan ilmu.  Tapi kadang juga ada keinginan untuk bisa menyisakan sesuatu untuk pulang ke tanah air. Namun kadang dengan membawa keluarga, dengan segala biaya yang ada, hal tersebut mungkin tidak bisa didapatkan. Sering untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari beasiswa sering tidak cukup atau pas pas an. Pengalaman saya di tahun2 pertama saya menghabiskan tabungan di tanah air dan bahkan sempat berhutang di kampus disini (di Belgia) untuk hidup. Hal ini juga setahu saya beberapa rekan2 pernah merasakan dimana saving mereka di Indonesia dijadikan modal untuk studi disini meski sudah mendapatkan beasiswa. Terutama di Negara/kota dimana mendapatkan part time job tidak mudah, kita biasanya sangat bergantung kepada beasiswa saja. Ada banyak cara untuk mensiasati mahal nya hidup di LN dgn income/allowance yg terbatas seperti yang dibahas di buku: Kiat Sukses Menaklukkan Mahalnya Kehidupan dan Mengapa Bertahan Di Negeri Orang?

4.    Persiapan Dokument.

Menyiapkan document merupakan step berikutnya yang kadang cukup rumit dan cukup lama mengingat birokrasi di tanah air yang cukup merepotkan. Passport, Marriage certificate, Birth certificate, SKKB (kelakukan baik), Surat invitation (jika diperlukan). Dan semuanya kadang harus diterjemahkan oleh penterjemah tersumpah.

Jika semua document tsb telah siap, maka biasanya prosedur untuk pengajian visa akan mudah meski juga cukup lama, sekitar 3 minggu sampai 2 bulan.

5.    Apakah ada nilai tambahnya?

Membawa keluarga, meski memerlukan biaya, tentunya banyak keuntungannya. Berikut saya gambarkan beberapa keuntungan dari keuntungan2 lainnya yang sangat banyak. Yang pertama, adalah bertambahnya wawasan (budaya baru, dsb) serta network baik bagi kita sendiri maupun bagi pasangan kita. Kita sekeluarga bisa mengunjungi tempat2 eksotis di eropa, meski hal ini tidak mudah mengingat cost nya.

Selain itu untuk  bisa menemani pasangan kuliah di LN, merupakan kesempatan yang bagus untuk dapat juga melanjutkan studi/kuliah lagi. Terlebih lagi di beberapa negara eropa, biaya kuliah terjangkau. Jika kita memiliki anak dan dapat ikut kita “stay” beberapa lama di LN, anak2 kita bisa merasakan system pendidikan yang berbeda dengan tanpa biaya alias gratis. Sang anak bisa langsung merasakan  berinteraksi dengan rekan yang “asing” sehingga dikemudian hari mereka tidak akan canggung untuk berinteraksi dengan orang dari bangsa lain, dan masih banyak keuntungan lainnya.

6. Menjalankan tiga peranan besar: mahasiswa, sekaligus suami/istri dan bapak/ibu.

Berhasil “mendatangkan” keluarga, adalah sebuah “great achievement” yang merupakan permulaan dari tantangan berikutnya yang sangat berat. Yang tak jarang beberapa orang tidak bisa menghadapinya dengan baik. Hal ini salah satunya karena budaya dan situasi yang berbeda dengan di Indonesia.

Setiap calon mahasiswa yang berniat membawa keluarga selama studi harus bersiap untuk menjadi tiga peran besar yang harus diemban. Ketiga peran tersebut harus diatur/manage baik  dari segi waktu dan juga proporsinya.

Yang pertama tentu adalah menjadi mahasiswa, dimana tugas-tugas bertumpuk, pressure dari dosen, ataupun saat menjelang ujian pasti merupakan bagian dari hidup mahasiswa. Bagi mahasiswa yang “single” waktu belajar  mungkin bukan hal yang “privilege”.  Bagi yang membawa keluarga terutama dengan anak, kita harus pintar2 mencari waktu untuk belajar dan melakukan tugas2 kampus.

Peran kedua adalah sebagai  seorang suami/istri. Tentu yang diharapkan dari pasangan kita adalah meski kita sibuk dengan tugas kuliah, kita tidak melupakan peranan ini. Mengingat di eropa, semua kegiatan rumah tangga harus dilakukan (kadang dengan terpaksa J) semuanya sendiri. Tanpa ada bantuan dari nanny/pembantu. Memasak, membersihkan rumah, berbelanja, mencuci baju dsb  harus bisa kita lakukan dan kita bagi pekerjaan tsb dengan pasangan kita. Bagi yang terbiasa “santai” di Indonesia karena ada pembantu, hal ini merupakan sebuah lompatan yang cukup besar.

Yang ketiga, jika kita memiliki anak, adalah peranan sebagai seorang bapak. Tentu anak kita “terpaksa” harus mengerti kesibukan kita sebagai mahasiswa, namun bukan berarti kita harus meninggalkan waktu untuk becengkrama dengan mereka. Pembagian waktu bermain dengan mereka kadang mengharuskan kita menjadi “kelelawar”, bangun di waktu malam. Setelah waktu kerja/kuliah disiang hari setibanya di rumah kita bisa bermain dengan anak2, meski tugas menunggu. Kita baru bisa “bergerak” saat mereka sudah tidur hingga mereka bangun. Tugas2 mengantar anak kesekolah dan kegiatan extra kulikuler, belajar dan bermain dengan mereka adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan meski kadang stress akan kuliah menghinggapi pikiran kita.

Itulah beberapa hal yang harus dipersiapkan dan diketahui bagi rekan2 mahasiswa yang sangat berniat membawa keluarganya. Sebuah tantangan yang sangat worthy untuk di taklukkan. Kadang kita ajak keluarga adalah untuk “ditinggalkan” oleh karena kesibukan kita, contoh klik disini.

Man Jadda Wajada, Man Shabara Zafira

Tio

May 11, 2012 Posted by | education, Scholarship | , , | 14 Comments

Gene Expression analysis, an overview


DNA microarrays are a new and promising biotechnology which allow the monitoring of expression of thousand genes simultaneously.

Image courtesy: http://www.albany.edu/genomics/affymetrix-genechip.html

Microarray  technology as one of recent biomedical technologies produces high dimensional data.  This makes statistical analysis become challenging.

The statistical components of a microarray experiment involve the following steps (Allison et al.  2006):

(1) Design. The development of an experimental plan to maximize the quality and quantity of information obtained.

(2) Pre-processing. Processing of the microarray image and normalization of the data to remove systematic variation. Other potential preprocessing steps include transformation of data, data filtering and background subtraction.

(3) Inference and/or classification. Inference entails testing statistical hypotheses which are usually about which genes are differentially expressed. Classification refers to analytical approaches that attempt to divide data into classes with no prior information (unsupervised classification) or into predefined classes (supervised classification).

(4) Validation of findings. The process of confirming the veracity of the inferences and conclusions drawn in the study.

I presented an overview of microarray analysis specifically in the use of gene expression profiling in a discussion.

The more detail of my presentation can be downloaded from here: Gene Expression Introduction or be seen here.

March 21, 2012 Posted by | Bioinformatics, education, Statistics | | 1 Comment

Non stressful exam?


Kemarin saya hadir dalam “parents meeting” di sekolah kedua anak kami (Kelas 1 dan 2 SD) di sebuah sekolah umum berbahasa inggris di Stockholm. Para guru memberikan informasi  secara singkat materi apa saja yang telah diberikan selama musim dingin lalu dan apa yang akan diberikan di waktu musim semi. Selain itu juga dibahas mengenai hal-hal  penting yang menurut hasil survey dari siswa sendiri  perlu dibahas antara guru dan orang tua. Ada satu hal yang ingin saya bagi kali ini adalah mengenai Ujian nasional.  Ujian nasional dimulai pada kelas 3 dan kelas 6 saja. Untuk kelas 3 materi ujian hanya matematika dan bahasa swedia bagi siswa dalam kelas berbahasa swedia, untuk anak kami, karena di kelas berbahasa inggris  bahasa swedia tidak diujikan. Kemudian untuk kelas 6 materi ujian nasional ditambah dengan science.
Ada hal yang sangat menarik dari penjelasan para guru adalah ujian bukan berarti stressful. Mereka berusaha membuat bahwa ujian itu hanya lah hal yang biasa dan menguji apa yang siswa tahu, bukan menguji apa yang mereka tidak tahu (Hal ini pernah dibahas juga oleg Prof Rhenald Kasali). Juga bagi orang tua jangan merasa terbebani akan ujian.
Jika anak sakit atau tdk siap maka ujian bagi anak tersebut bisa di jadwal tersendiri, karena tidak ada point nya menguji anak dimana anak tersebut sakit.  Kemudian untuk persiapan ujian, mereka menekankan bagaimana mengatur waktu dalam ujian, cara membaca soal dsb. Tempat dudukpun tidak dirubah hanya di beri jarak lebih lebar sedikit.
Ujian diusahakan diberikan pada jam ke 2 karena mungkin pada jam pertama, si anak masih dalam kondisi yang belum siap karena bbrp hal seperti  traffic atau keletihan dalam perjalanan menuju sekolah.
Jika si anak kurang waktu dalam mengerjakan akan diberi waktu tambahan, dan jika dia tidak mengerti maksud dari soal , maka guru akan berusaha menjelaskan.
Ada beberapa poin dari hal diatas:
1. Materi ujian hanya 1, matematika. Apakah untuk menentukan kelulusan? Ternyata tidak, ini hanya untk statitik nasional untuk melihat progress dari pendidikan secara general.
2. Rileks dalam ujian. Ujian bukan hal yang membuat kita jadi stress dan kurang tidur.
3. Peran guru dalam semua hal sangat penting baik dalam menciptakan ujian yang bisa ”dinikmati” oleh siswanya.
Mari kita semua bandingkan dengan sistem di negara kita tercinta Indonesia.
Masih ada beberapa hal yang menarik dalam rapat tersebut. Akan saya rangkum dalam post berikutnya.

March 15, 2012 Posted by | education | | 2 Comments

Biostatistics and Statistical Bioinformatics a Lecture at the Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Brawijaya University


Image courtesy: here

On October 2012, I had an honor to give a guest lecture in the Mathematics Department of Brawijaya University. I never image that I will return to the university which provided me lot of valuable knowledge to give a lecture there.

My lecture titled “Biostatistics and Statistical Bioinformatics” can be seen at: here or downloaded from: Statistical Bioinformatics.

October 24, 2011 Posted by | Bioinformatics, education, Statistics | , , | Leave a comment

Another MOTIVATION FOR APPLYING FOR A SCHOLARSHIP Sample


The next example of motivation statement (with some changes) was provided by the author for me to be distributed. Hopefully be helpful.

MOTIVATION FOR APPLYING FOR A SCHOLARSHIP

NAME: Brama Kumbara

COUNTRY: Madangkara

PROGRAMME: Master of Science in Advance Mathematics, Harvard University

REASONS FOR A (Name of programe) SCHOLARSHIP

First I would like to express my appreciation for this opportunity to apply for XXX scholarship. I am a graduate of Mojopahit University holding a degree in Mathematics Science, First Class Honours.

With the background knowledge I have in mathematics, I strongly feel that a master course in Advance Mathematics will be very relevant to my practice back here in my country Madangkara. I plan to work with research based groups in applied mathematics sector as well as in local universities with an aim to improve research and human resource capacity building through training.

Owing to limited resources, I have not been able to proceed with further studies here in Madangkara or elsewhere as I lack the necessary funds. I would be grateful to be provided with sponsorship to further my education and build a career and XXX scholarship will be immensely helpful. My future potential employer especially in the public sector such as local universities and research organisations will be a good channel where I can transfer the knowledge gained in an optimized manner to my country and future generations.

In addition I will get a chance through XXX scholarship to interact with students from diverse professional and cultural backgrounds drawn from all over the world. The exposure is important for interaction and integration of diverse ideas and perspectives pertaining to various global issues; for the world is a mosaic of different cultures and a single perspective cannot apply in all these cultures.

Finally I am determined to make the most out of the scholarship benefits. I will optimize my stay at Harvard University to garner a wealth of ideas that will apply when I return to my country and at the same time contribute to a better Harvard University and the Americans with my country Madangkara.

Once again I am grateful for considering my application and I look forward to a favorable reply.

February 14, 2009 Posted by | education, Scholarship | , , | 49 Comments