Tio

Just wanna share my experience

Shipping From Stockholm to Jakarta


Moving is taft to do especially if we have limited budget for that. For people working in industry, usually they are provided a moving service by their company. But for academics like me, usually we have to arrange (and most of time pay) by ourself.

Based on my experience of  shipping  for moving from Stockholm, Sweden to Jakarta, Indonesia, there are two ways:

1. Direct Shipping

There is one shipping service  from Stockholm (our address) to Jakarta port (Tanjung Priok). The price is SEK 2700 for up to 1 cbm  =  8  “flyttkartonger”. For this service you can contact: Jan Sillén at jan@molineux.se.

But this service does not include cost in Custom (Bea Cukai) in Tanjung Priok (This is sometime more expensive that the shipping cost.. you know Indonesia lah….)  and delivery from Tanjung Priok to our address. However, there is a company PT. Quantum Indonesia Translogistic (http://quantumindonesia.com) who can help you to arrange this step.

Base on my experience this option is bit costly. I prefer the next option:

2. Non Direct Shipping

This option less cost, using two different companies and our box would transit in Germany.

Hence, it needs bit arrangement, please follow the steps:

1. Contact and ask  a shipping company Pulang kampung (http://pulangkampung.eu/) for information about the next shipping (usually every month).

2. Once you agree, fill the form and you would be given a container number and box number.

3. After the boxes are numbered,  and wrap nicely, next is to send them to pulang kampung warehouse (See their weskit for the address).

4. Contact http://www.fraktabilligt.se, for delivery from Stockholm to Germany. In their website you can check the cost directly. (The cost depends on the weight, but more boxes is cheaper). This service is half cheaper that ordinary shipping company, but we have to use an office address as pickup address. I used my department address in campus and had no problem.

5. Fill the form and they pay directly using your credit card. You will be given a document to be sticked in the box.

6. Wait until the company comes to pick the box, in my experience DHL pick and deliver my boxes to Germany. It takes around 1 week.

7. That’s it!

Note that the shipping pulang kampung from Germany can take 2-3 months, but the boxes would be sent directly to our address in Indonesia. So we do not need to face with bureaucracy in Custom in Tanjung Priok.

 

April 19, 2014 Posted by | Study abroad | Leave a comment

Finding Accommodation for Visiting Researchers in Stockholm


Finding an accommodation in Stockholm, especially inside the city is a nightmare due to its lack of availability and the price (especially for academics). I had to move four times at the first month in Stockholm. So moving several times is common here.

Below I listed several options based on my preferences (as a postdoc here)  for accommodations especially for visiting researchers in Stockholm:

1. Wenner-Gren Center Apartment
2. University Accommodation Center AB
3. Stockholm Bostad
4. Botkyrkabyggen

5. Blocket 

To my experience, Wenner gren apartment is the best apartment but it has really long queue, so you need to apply immediately. Please check the requirements for WGC before you apply!

For Stockholm Bostad you need to pay a registration fee, but for Botkyrkabyggen is free. For the blocket website, please be careful for scams. Always meet the landlord and see first the apartment, and discuss with the locals. Don’t send money before you see the apartment, don’t trust photos etc. If it’s too good to be true, don’t trust it.

Good luck!

June 19, 2013 Posted by | Study abroad | , | 5 Comments

Back for good or stay?


Setiap mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri pasti ingin berkontribusi dalam pembangunan di tanah air tercinta. Namun ada berbagai tantangan serta pertimbangan yang kadang membuat mereka gamang untuk kembali. Diskusi bulanan yang diadakan oleh PPI Stockholm beberapa waktu lalu berusaha membahas berbagai tantangan  tersebut.

Dari diskusi tersebut banyak tantangan mencuat, seperti ilmu yang kita dapatkan selama studi belum dapat sepenuhnya diimplementasikan di negeri kita. Tantangan lain adalah penempatan kita yang kurang sesuai dengan keahlian. Ada beberapa kisah dimana ilmu dan pos dimana kita ditempatkan jauh panggang dari api.

Bagi yang sudah berkeluarga, setelah merasakan pendidikan yang bagus dan gratis di negeri orang, tentu berharap hal yang sama di negeri kita. Belum adanya perhatian yang besar dari pemerintah terhadap riset membuat beberapa ilmuan berfikir ulang untuk kembali ke Indonesia. Suasana kerja yang sangat berbeda juga menjadi kendala lain. Bahkan ada situasi dimana kembalinya kita malah dianggap sebagai saingan oleh rekan-rekan di tanah air.  Masih banyak lagi tantangan yang ada yang semuanya menjadi “culture shock” bagi mereka yang ingin “pulang kampung”.

Lalu apa yang harus dilakukan? Pulang tanpa persiapan, alias terjun bebas? Atau tetap tinggal dan berkarir di negeri orang? Diskusi mengerucut kepada beberapa pilihan berikut.

Bagi yang memiliki tanggung jawab di tanah air dan harus langsung kembali setelah selesai kuliah,  maka selain meningkatan keilmuan serta wawasan selama studi kita juga harus tetap menjalin jaringan “network”  kepada rekan kuliah, para dosen terutama di tempat kita studi, PPI, serta organisasi profesi. Tetap berkomunikasi agar kedepannya akan memungkinkan untuk bisa saling bertukar informasi, ilmu, teknologi, dan bahkan berkolaborasi.

Namun jika kita masih dapat tinggal sedikit lebih lama janganlah pulang dahulu. Bekerjalah dahulu  atau melanjutkan studi lebih lanjut untuk mendapatkan ilmu yang mumpuni, pengalaman bekerja, dan jaringan internasional yang dapat dijadikan modal saat kembali ke tanah air.

Jika memang terpaksa menetap di luar negeri, karena merasa ilmu lebih optimal di sana, tetaplah berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung kepada Indonesia dari luar. Banyak cara yang dilakukan para diaspora sebagai wujud cintanya terhadap Indonesia: memberi donasi/funding, memberi beasiswa kepada siswa asal Indonesia, berkolaborasi dengan para ilmuan di tanah air dan masih banyak lagi.

Diskusi hangat di Stockholm yang dingin ini memberi gambaran baik kepada mahasiswa baru maupun lama akan perlunya bekal selain ilmu yang didapat di bangku kuliah. Slide presentasi dari diskusi tersebut dapat dilihat disini.

January 16, 2013 Posted by | education, Study abroad | , , | 5 Comments

Carilah Ilmu Sampai ke Negeri Tintin


REPUBLIKA.CO.ID,Semua orang pasti kenal dengan sosok wartawan berjambul, Tintin yang selalu ditemani anjing setianya, Snowy dan karibnya Kapten Haddock. Namun tidak semua orang tahu bahwa karakter tersebut berasal dari sebuah negara di tengah benua Eropa yang paling banyak menghasilkan komik per kapitanya.
Negara tersebut adalah Belgia dengan ibu kotanya Brussel yang juga merupakan ibu kota dari Uni Eropa. Belgia mungkin kurang dikenal sebagai tujuan belajar (dan juga tujuan wisata) bagi kita di Indonesia dibandingkan  dengan negara sekitarnya seperti Belanda, Jerman,  Prancis ataupun Inggris.
Namun ini  bukan berarti pendidikan di  Belgia, tertinggal dibandingkan negara-negara lainnya. Berdasarkan data terbaru yang di publikasikan oleh “U21 Ranking of National Higher Education Systems”, pendidikan tinggi Belgia bertengger di posisi 13 diatas Jerman, Prancis dan Jepang (http://www.universitas21.com/news/details/61/u21-rankings-of-national-higher-education-systems-2012)

Meski dari ranking tersebut, Belgia sedikit berada di bawah Belanda dan Inggris, namun ada hal lain yang membuat  kuliah di Belgia cukup menarik mahasiswa dari seluruh dunia: biaya pendidikan yang cukup murah.

More detail:

http://www.republika.co.id/berita/komunitas/perhimpunan-pelajar-indonesia/12/07/23/m7m6j0-carilah-ilmu-sampai-ke-negeri-tintin

July 24, 2012 Posted by | education, Scholarship, Study abroad | , , , , , | 2 Comments