Tio

Just wanna share my experience

Carilah Ilmu Sampai ke Negeri Tintin


REPUBLIKA.CO.ID,Semua orang pasti kenal dengan sosok wartawan berjambul, Tintin yang selalu ditemani anjing setianya, Snowy dan karibnya Kapten Haddock. Namun tidak semua orang tahu bahwa karakter tersebut berasal dari sebuah negara di tengah benua Eropa yang paling banyak menghasilkan komik per kapitanya.
Negara tersebut adalah Belgia dengan ibu kotanya Brussel yang juga merupakan ibu kota dari Uni Eropa. Belgia mungkin kurang dikenal sebagai tujuan belajar (dan juga tujuan wisata) bagi kita di Indonesia dibandingkan  dengan negara sekitarnya seperti Belanda, Jerman,  Prancis ataupun Inggris.
Namun ini  bukan berarti pendidikan di  Belgia, tertinggal dibandingkan negara-negara lainnya. Berdasarkan data terbaru yang di publikasikan oleh “U21 Ranking of National Higher Education Systems”, pendidikan tinggi Belgia bertengger di posisi 13 diatas Jerman, Prancis dan Jepang (http://www.universitas21.com/news/details/61/u21-rankings-of-national-higher-education-systems-2012)

Meski dari ranking tersebut, Belgia sedikit berada di bawah Belanda dan Inggris, namun ada hal lain yang membuat  kuliah di Belgia cukup menarik mahasiswa dari seluruh dunia: biaya pendidikan yang cukup murah.

More detail:

http://www.republika.co.id/berita/komunitas/perhimpunan-pelajar-indonesia/12/07/23/m7m6j0-carilah-ilmu-sampai-ke-negeri-tintin

Advertisements

July 24, 2012 Posted by | education, Scholarship, Study abroad | , , , , , | 2 Comments

Tantangan membawa keluarga selama kuliah di Eropa


Tulisan ini sebenarnya sudah saya rencanakan untuk saya buat berbulan-bulan lalu sebagai respon dari banyak pertanyaan di milis beasiswa mengenai proses dan kendala dalam membawa keluarga untuk menemani kita kuliah.

Membawa keluarga di negeri orang dimana semua serba baru dan mungkin tiada sanak saudara harus dipersiapkan dan perlu perencanaan. Saya sendiri termasuk yang pernah “kurang” perencanaan dan sangat “bernafsu” untuk membawa keluarga secepatnya. Sehingga ada beberapa perkiraan yang meleset.  Dari pengalaman tersebut, berikut hal hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan untuk mengukur visibilitas membawa keluarga untuk menemani kita selama studi di luanr negeri terutama eropa:

1.    Teliti seluk beluk beasiswa, kehidupan, serta biaya hidup.

Membawa keluarga tidak terlepas dari factor biaya yang tentu merupakan hal yang krusial. Jika kita memiliki support dari dalam negeri tidak merupakan masalah. Namun jika kita tergantung pada beasiswa, ada banyak hal yang harus diperhatikan.

Yang pertama yakni jumlah beasiswa. Apakah beasiswa meliputi biaya keluarga (tunjangan), ongkos pesawat dll. Untuk beasiswa master yang di eropa sepengetahuan saya jarang yang mendapatkan tunjangan keluarga. Untuk program PhD dgn funding dari kampus (project based), karena dihitung bekerja, di beberapa Negara istri ataupun anak dapat mendapatkan tunjangan yang cukup.

Yang kedua, teliti dan pelajari biaya hidup (contoh:klik) untuk keluarga dan bandingkan dengan jumlah beasiswa yang akan diterima. Kadang kita serta merta hanya men “convert” beasiswa dan langsung dibandingkan degan pengeluaran di Indonesia. Menurut saya ini hal yng sangat penting, jangan sampai salah perkiraan. Beberapa komponen yg harus ditanyakan:

a. Akomodasi, tergantung dgn lokasi/kota/Negara.

b. Makanan

c. Asuransi, di beberapa Negara asuransi cukup mahal dan dihitung per anggota keluarga/anak2 dihitung (spt di Belanda). Di Belgia, untuk mahasiswa asuransi cukup murah dan dihitung per keluarga (jika istri tdk bekerja).

d. Transportasi. Ini cukup mahal di beberapa Negara, meski di bbrp Negara spt jerman, swedia dan belgia ada tiket reduction bagi student.

2.    Part time job? Is it possible?

Untuk mendapatkan tambahan salah satunya dengan mencari part time job.  Carilah info apakah memungkinkan untuk melakukan hal ini. Yang saya maksud “memungkinkan” disini adalah memungkinkan (a) “in term of time” , karena kesibukan kuliah sering kita tidak punya waktu untuk part time job. (b) “Job availability”di beberapa tempat mendapatkan side job cukup sulit. Waktu “summer” mungkin waktu dimana banyak kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan, seperti terlihat disini. Selain side job diluar kampus, kita bisa juga mungkin mendapatkan tambahan dengan menjadi teaching assistant.

Cari informasi juga apakah untuk pasangan juga memungkin bisa mencari pekerjaan. Di Belgia, pasangan (spouse) dari student tidak dapat mendapatkan “working permit”. Kecuali spouse nya student juga. Namun kadang bisa juga bekerja secara “illegal”.

3.    Can we save? Or spend our saving…..?

Tentu selama studi yang kita inginkan adalah penyerapan ilmu.  Tapi kadang juga ada keinginan untuk bisa menyisakan sesuatu untuk pulang ke tanah air. Namun kadang dengan membawa keluarga, dengan segala biaya yang ada, hal tersebut mungkin tidak bisa didapatkan. Sering untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari beasiswa sering tidak cukup atau pas pas an. Pengalaman saya di tahun2 pertama saya menghabiskan tabungan di tanah air dan bahkan sempat berhutang di kampus disini (di Belgia) untuk hidup. Hal ini juga setahu saya beberapa rekan2 pernah merasakan dimana saving mereka di Indonesia dijadikan modal untuk studi disini meski sudah mendapatkan beasiswa. Terutama di Negara/kota dimana mendapatkan part time job tidak mudah, kita biasanya sangat bergantung kepada beasiswa saja. Ada banyak cara untuk mensiasati mahal nya hidup di LN dgn income/allowance yg terbatas seperti yang dibahas di buku: Kiat Sukses Menaklukkan Mahalnya Kehidupan dan Mengapa Bertahan Di Negeri Orang?

4.    Persiapan Dokument.

Menyiapkan document merupakan step berikutnya yang kadang cukup rumit dan cukup lama mengingat birokrasi di tanah air yang cukup merepotkan. Passport, Marriage certificate, Birth certificate, SKKB (kelakukan baik), Surat invitation (jika diperlukan). Dan semuanya kadang harus diterjemahkan oleh penterjemah tersumpah.

Jika semua document tsb telah siap, maka biasanya prosedur untuk pengajian visa akan mudah meski juga cukup lama, sekitar 3 minggu sampai 2 bulan.

5.    Apakah ada nilai tambahnya?

Membawa keluarga, meski memerlukan biaya, tentunya banyak keuntungannya. Berikut saya gambarkan beberapa keuntungan dari keuntungan2 lainnya yang sangat banyak. Yang pertama, adalah bertambahnya wawasan (budaya baru, dsb) serta network baik bagi kita sendiri maupun bagi pasangan kita. Kita sekeluarga bisa mengunjungi tempat2 eksotis di eropa, meski hal ini tidak mudah mengingat cost nya.

Selain itu untuk  bisa menemani pasangan kuliah di LN, merupakan kesempatan yang bagus untuk dapat juga melanjutkan studi/kuliah lagi. Terlebih lagi di beberapa negara eropa, biaya kuliah terjangkau. Jika kita memiliki anak dan dapat ikut kita “stay” beberapa lama di LN, anak2 kita bisa merasakan system pendidikan yang berbeda dengan tanpa biaya alias gratis. Sang anak bisa langsung merasakan  berinteraksi dengan rekan yang “asing” sehingga dikemudian hari mereka tidak akan canggung untuk berinteraksi dengan orang dari bangsa lain, dan masih banyak keuntungan lainnya.

6. Menjalankan tiga peranan besar: mahasiswa, sekaligus suami/istri dan bapak/ibu.

Berhasil “mendatangkan” keluarga, adalah sebuah “great achievement” yang merupakan permulaan dari tantangan berikutnya yang sangat berat. Yang tak jarang beberapa orang tidak bisa menghadapinya dengan baik. Hal ini salah satunya karena budaya dan situasi yang berbeda dengan di Indonesia.

Setiap calon mahasiswa yang berniat membawa keluarga selama studi harus bersiap untuk menjadi tiga peran besar yang harus diemban. Ketiga peran tersebut harus diatur/manage baik  dari segi waktu dan juga proporsinya.

Yang pertama tentu adalah menjadi mahasiswa, dimana tugas-tugas bertumpuk, pressure dari dosen, ataupun saat menjelang ujian pasti merupakan bagian dari hidup mahasiswa. Bagi mahasiswa yang “single” waktu belajar  mungkin bukan hal yang “privilege”.  Bagi yang membawa keluarga terutama dengan anak, kita harus pintar2 mencari waktu untuk belajar dan melakukan tugas2 kampus.

Peran kedua adalah sebagai  seorang suami/istri. Tentu yang diharapkan dari pasangan kita adalah meski kita sibuk dengan tugas kuliah, kita tidak melupakan peranan ini. Mengingat di eropa, semua kegiatan rumah tangga harus dilakukan (kadang dengan terpaksa J) semuanya sendiri. Tanpa ada bantuan dari nanny/pembantu. Memasak, membersihkan rumah, berbelanja, mencuci baju dsb  harus bisa kita lakukan dan kita bagi pekerjaan tsb dengan pasangan kita. Bagi yang terbiasa “santai” di Indonesia karena ada pembantu, hal ini merupakan sebuah lompatan yang cukup besar.

Yang ketiga, jika kita memiliki anak, adalah peranan sebagai seorang bapak. Tentu anak kita “terpaksa” harus mengerti kesibukan kita sebagai mahasiswa, namun bukan berarti kita harus meninggalkan waktu untuk becengkrama dengan mereka. Pembagian waktu bermain dengan mereka kadang mengharuskan kita menjadi “kelelawar”, bangun di waktu malam. Setelah waktu kerja/kuliah disiang hari setibanya di rumah kita bisa bermain dengan anak2, meski tugas menunggu. Kita baru bisa “bergerak” saat mereka sudah tidur hingga mereka bangun. Tugas2 mengantar anak kesekolah dan kegiatan extra kulikuler, belajar dan bermain dengan mereka adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan meski kadang stress akan kuliah menghinggapi pikiran kita.

Itulah beberapa hal yang harus dipersiapkan dan diketahui bagi rekan2 mahasiswa yang sangat berniat membawa keluarganya. Sebuah tantangan yang sangat worthy untuk di taklukkan. Kadang kita ajak keluarga adalah untuk “ditinggalkan” oleh karena kesibukan kita, contoh klik disini.

Man Jadda Wajada, Man Shabara Zafira

Tio

May 11, 2012 Posted by | education, Scholarship | , , | 14 Comments

Tips untuk mengejar PhD


Menjadi doktor, mungkin itu sebuah angan bagi kebanyakan kita termasuk saya. Dahulu bisa lanjut ke jenjang Master saja, bagi saya sudah sebuah lompatan yang sangat jauh, apalagi jadi doktor tidak pernah terbersit dalam hati. Tapi berdasarkan pengalaman saya, semua orang bisa melanjutkan ke jenjang S3 (PhD/Doktor) jika memiliki keinginan yang kuat dan persiapan yang matang.

Untuk bisa melanjutkan study ke program doktor atau PhD, perlu beberapa “senjata” yang harus dipersiapkan. Berikut beberapa hal yang perlu dilakukan dalam proses pelamaran PhD, terutama yang project based sepanjang pengetahuan saya dan hanya mungkin berlaku di negara2 sekitar Belgia. Mungkin beberapa negara memiliki prosedur yang berbeda.

Jenis PhD

  1. Full Time Research. Untuk program ini, riset PhD dilakukan di Universitas  selama 3-5 tahun (tergantung universitas dan juga supervisor)  kadang di kombinasikan dengan beberapa course jika diperlukan.
  2. Sandwich Program. PhD tipe ini dilakukan sebagian waktu di host university di eropa, dan sebagian lagi di salah satu universitas di negara siswa tersebut tinggal, (e.g., di Indonesia).
  3. Part time PhD. Program ini biasanya bagi yang bekerja di industri atau lembaga riset yang ingin melanjutkan study, namun tetap melakukan pekerjaanya. Biasanya materi dari PhD tersebut adalah materi dari pekerjaannya, sehingga dapat di kombinasi antara pekerjaan dengan study.

Jenis pembiayaan program PhD:

  1. Project based. Kebanyakan untuk program PhD di eropa adalah dengan menggunakan funding yang didapat dari project yang dilakukan/diajukan oleh sang supervisor/profesor karenanya untuk project ini kita tidak perlu mengajukan proposal riset. Funding didapat dari project yang akan kita lakukan. Biasanya project tersebut mendapatkan grant dari universitas, pemerintah negara tersebut, lembaga international (seperti WHO, EU), atau juga didapat  dari perusahaan multinational (seperti Novartis). Untuk program PhD seperti ini, biasanya tidak ada yang mengikat antara pemberi beasiswa dan mahasiswa setelah PhD selesai. Hanya biasanya untuk PhD yang dibiayai oleh perusahaan, selain mengerjakan main PhD projectnya, kita juga diharapkan menjadi konsultan/pekerja di perusahaan tersebut. Karena kita “bekerja” untuk project tersebut, maka kita akan menerima “salary” yg biasanya di tertera di setiap iklan dari lowongan tsb. Keuntungan dari hal ini adalah kita dapat langsung pengalaman di dunia industri yang dikombinasikan dengan dunia akademik.
  2. Scholarship. Pilihan kedua untuk mendapatkan PhD adalah melalui beasiswa yang diberikan oleh badan pemberi beasiswa seperti NFP, DAAD, VLIR (khusus untuk vlir master scholar, sandwich program), Dikti, Menkominfo, dll.  Funding untuk PhD seperti ini biasanya adalah program dari APBN atau merupakan program bantuan atau hibah (kecuali VLIR).
  3. Individual based. Ada juga program self funding PhD dimana sang mahasiswalah yang menanggung semua biaya selama study.

Cara mengetahui informasinya?

 Jawaban untuk hal ini: GOOGLING. Untuk project based PhD, banyak sekali informasi lowongannya,  informasi tersebut dapat dilihat melalui website dari universitas yang diinginkanseperti:

  1. http://www.kuleuven.be/personeel/jobsite/vacancies.html
  2. http://www.uhasselt.be/vacancies
  3. http://ki.se/ki/jsp/polopoly.jsp?d=469&a=88392&l=en

dan juga beberapa “search engine” website:

  1. http://www.academictransfer.com/?set_language=en
  2. http://www.academicjobseu.com/
  3. http://www.jobs.ac.uk/jobs/phd
  4. http://jobs.phds.org/
Kapan mulai melamar?

Untuk Project based, tidak ada bulan2 spesifik untuk pendaftaran. Deadline tergantung dari kapan mereka akan memulai project tersebut. Bahkan ada yang lowongan tetap terbuka hingga ada student yang layak untuk mengisi lowongan tersebut. Karenanya  mulailah mencari2 informasi sesegera mungkin. Meski kita sedang menyelesaikan program Master, jangan tunggu hingga kita lulus, karena biasanya untuk proses dari pengiriman lamaran hingga mulai PhD cukup lama. Ada banyak Master student yang telah direkrut menjadi PhD student sebelum mereka menyelesaikan master nya.

Untuk program PhD dari institusi pemberi beasiswa, biasanya ada waktu-waktu tertentu guna pelamaran beasiswa. Hal ini bisa di cek di website organisasi tersebut.

Untuk PhD dari beasiswa atau self funding, kita harus mengajukan riset proposal ke professor yang kita tuju. Setelah profesor tersebut mau menerima kita sebagai studentnya kita bisa mendapatkan letter of acceptance.

Apa saja yang diperlukan dalam melamar?

Dokumen-dokumen seperti CV, cover letter (lihat contoh di: link), transcript nilai,  recommendation letter  biasanya diperlukan dalam proses perlamaran. Dalam CV, gunakan CV standard dan selain data2 yang biasany harus dicantukan di dalam CV lebih baik dimasukan juga daftar publikasi, refeeree (pemberi referensi) dll.  Untuk surat rekomendasi, perlu diingat bahwa surat rekomendasi  (bisa didapatkan dari supervisor thesis kita selama master program) biasanya dikirim langsung oleh sang supervisor ke tempat yang akan kita lamar jika diminta. Sering juga calon supervisor kita/profesor di universitas yg kita lamar, langsung mengontak referee kita  (via email atau telephone). Rekomendasi adalah hal yang sangat berperan dalam proses penerimaan PhD.

Pengiriman lamaran/aplikasi biasanya melalui email atau menggunakan online system dari website universitas.

Setelah melamar terus????

Setelah kita mengirimkan lamaran,  proses selanjutnya adalah wawancara. Yang perlu diingat bahwa tidak semua lamaran kita akan mendapatkan response wawancara. Jika kita sudah dipanggil untuk wawancara, peluang kita untuk diterima sudah sangat besar. Wawancara bisa dengan face to face,  telephone, atau teleconference (misal dengan skype). Jangan mudah menyerah kalau kita sudah berkali2 mengirimkan lamaran tapi belum pernah mendapatkan panggilan. Ada banyak kejadian dimana setelah mengirimkan puluhan lamaran akhirnya dia dipanggil untuk wawancara. So keep trying….!!

Dalam wawancara, pertanyaan bervariasi dari mulai latar belakang pendidikan, program study yang sedang dilakukan (S2), alasan tertarik dengan project tersebut,  keahlian yang dimiliki berkesesuaian dengan project,  hingga ke teknis/skill yang diinginkan. Tak jarang selecting commitee memberikan beberapa paper untuk dibaca sebelum wawancara untuk dibahas selama wawancara. Juga ada yang harus mempresentasikan summary dari paper tersebut. Di proses ini kita harus bisa menyakinkan mereka kalau kita memiliki skill yang mereka perlukan, ataupun kita mungkin tidak sepenuhnya bisa, kita mau belajar sehingga mampu melakukan project tsb. Proses wawancara kadang lebih dari satu kali. Penentuan penerimaan kandidat diputuskan melalui rapat komite doktorat.

Kapan dimulai dan berapa lama?

Setelah rapat komite menentukan hasil seleksi dan kita mendapatkan tawaran PhD tersebut, kita akan diminta untuk memulai pada waktu yang telah diinformasikan sebelumnya di pengumuman lowongan. Namun tanggal mulai tidak lah terlalu “straight”. Jika kita menginginkan kita bisa mengajukan kapan kita ingin mulai, namun tidak terlalu jauh dari yang telah ditentukan.

Program PhD bervariasi di setiap negara dan  universitas. Untuk di UK, biasanya lama study adalah 3 tahun. Untuk Belanda, Belgia dan sekitarnya, biasanya antara 3 hingga 5 tahun.

Masa kontrak berbeda2, ada yang kontrak selama 2 tahun dan dapat diperbaharui untuk 2 tahun berikutnya (berdasarkan hasil evaluasi) atau juga ada yg kontaknya pertahun (evaluasi pertahun).

Ada beberapa universitas (misal di beberapa fakultas di KU Leuven) yang mensyaratkan bagi siswa untuk melalui tahap yang dinamakan pre-doctoral program, atau yang juga di kenal dengan preparatory program.

Program pre-doktoral  yang berkisar antara enam bulan sampai dengan satu tahun ini pada dasarnya adalah sebuah proses “seleksi” bagi calon mahasiswa S3 dan juga proses pengenalan Project bagi calon mahasiswa dan juga proses pengenalan supervisor akan calon mahasiswa tersebut. Apakah memang dia layak untuk meneruskan ke jenjang S3.

Selama program pre-doc ini, selain melakukan penelitian terkadang calon mahasiswa  tersebut diharuskan mengambil beberapa mata kuliah serta harus mengikuti ujian.  Nilai ujian ini menjadi salah satu hal yang akan dilihat dalam evaluasi predoc program. Selain itu diakhir masa predoc, calon mahasiswa diharapkan mampu mempresentasikan hasil penelitiannya dihadapan penguji pembimbing dan atau para promotornya. Jika ternyata dinyatakan lulus, maka langsung bisa masuk ke program PhD yang biasanya adalah 4 tahun.

Sukses !!!!!

This figure is a joke, so don’t worry…becoming a phd student can be  fun as well …. I will explain it in the next post 🙂

January 31, 2012 Posted by | Scholarship | , , , , , | 21 Comments

Another MOTIVATION FOR APPLYING FOR A SCHOLARSHIP Sample


The next example of motivation statement (with some changes) was provided by the author for me to be distributed. Hopefully be helpful.

MOTIVATION FOR APPLYING FOR A SCHOLARSHIP

NAME: Brama Kumbara

COUNTRY: Madangkara

PROGRAMME: Master of Science in Advance Mathematics, Harvard University

REASONS FOR A (Name of programe) SCHOLARSHIP

First I would like to express my appreciation for this opportunity to apply for XXX scholarship. I am a graduate of Mojopahit University holding a degree in Mathematics Science, First Class Honours.

With the background knowledge I have in mathematics, I strongly feel that a master course in Advance Mathematics will be very relevant to my practice back here in my country Madangkara. I plan to work with research based groups in applied mathematics sector as well as in local universities with an aim to improve research and human resource capacity building through training.

Owing to limited resources, I have not been able to proceed with further studies here in Madangkara or elsewhere as I lack the necessary funds. I would be grateful to be provided with sponsorship to further my education and build a career and XXX scholarship will be immensely helpful. My future potential employer especially in the public sector such as local universities and research organisations will be a good channel where I can transfer the knowledge gained in an optimized manner to my country and future generations.

In addition I will get a chance through XXX scholarship to interact with students from diverse professional and cultural backgrounds drawn from all over the world. The exposure is important for interaction and integration of diverse ideas and perspectives pertaining to various global issues; for the world is a mosaic of different cultures and a single perspective cannot apply in all these cultures.

Finally I am determined to make the most out of the scholarship benefits. I will optimize my stay at Harvard University to garner a wealth of ideas that will apply when I return to my country and at the same time contribute to a better Harvard University and the Americans with my country Madangkara.

Once again I am grateful for considering my application and I look forward to a favorable reply.

February 14, 2009 Posted by | education, Scholarship | , , | 49 Comments

Kuliah di Belgia yuuk..!


Saya ingin berbagi info bahwa di beberapa universitas di Belgia (U ghent dan U hasselt yg saya tahu) telah menerapkan peraturan baru utk biaya kuliah Program Master.
Bagi student yang berasal dari negara2 berkembang spt indonesia, hanya diwajibkan untuk membayar uang kuliah sebesar 80 euro pertahun untuk program Master.

Di universitas Hasselt, terdapat 3 major international master program:

1. Master of Management

2. Master of Statistics

-Applied Statistics

-Biostatistics

-Bioinformatics

3. Master in Transportation Sciences

Namun hanya Master of Statistics saja dimana berlaku pengurangan tuition fee untuk student dari negara2 berkembang (80 euro/th).

Untuk universitas Gent, pilihan program lebih banyak dan penjelasan tentang tuition fee dapat dilihat di:

http://www.ugent.be/en/teaching/studentadmin/tuition/2008-2009.htm

Untuk daftar master program bisa dilihat di http://www.ugent.be/en

Proses aplikasi utk mendapatkan keringanan biaya tsb mudah saja. Pertama2 kita aplikasi dahulu untuk diterima di program study yg diinginkan dan kemudian setelah diterima ajukan permohonan ke pihak universitas untuk pengurangan biayanya. Untuk di uHasselt, jika kita dari negara2 berkembang akan otomatis diberi keringanan.

KULeuven menawarkan Science@Leuven Scholarship untuk beberapa program master tertentu. Informasi lebih lanjut bisa dilihat di: http://wet.kuleuven.be/english/scienceatleuvenscholarship

Info lain ttg pendidikan di belgia:

Biaya pendidikan di belgia paling murah dibandingkan negara2 di sekitarnya spt belanda dimana untuk program master berkisar 5000 hingga diatas 10.000 euro pertahun. Di belgia, selain biaya murah ( dari mulai 560 euro/thn hingga sekitar 5000euro/ thn, namun rata2 biaya perkuliahan sekitar 1500euro/th), tuition fee utk hampir semua program studi tidak dibedakan bagi student dari luar maupun dari negara2 EU (European Union) .

Terlebih lagi biaya hidup bisa dibilang lebih murah dari negara tetangga belanda.

Berikut rincian living cost di belgia:

  • Student room 250 -400 euro utk di brussels, dan diluar brussels : 150-250 euro/bln.

Utk akomodasi diatas hanya utk 1 org student. Bagi yg ingin membawa keluarga tidak diperbolehkan menggunakan student room dan diharuskan menyewa appartement/studio. Untuk sewa apartement (bukan student room) berkisar 350-550 utk 1 sleeping room, blm termasuk biaya lain2. Utk biaya listrik, gas, internet, air, asuransi apartemen minimum 200 euro.

  • Makan (masak sendiri) : 250-350 euro.
  • Transportasi: Biasanya para student menggunakan sepeda sebagai moda transportasi , namun in case harus pergi dengan bis  juga bisa dibilang murah di belgia, abodement utk bis sekitar 25/bln, di beberapa kota spt leuven tuition fee sudah termasuk biaya transportasi dalam kota bagi student, khusus kota hasselt semua public transportation gratis.
  • Buku2: 250-400 euro/thn, biasanya buku2 (text book) sudah tersedia di perpustakaan, tinggal course note saja yang harus beli (tips: bisa cari “fosil2” angkatan2 sebelumnya).
  • Asuransi kesehatan sekitar 40 euro/ th utk student (sangat murah dibanding kan belanda yg berkisar 50-100 euro/bln).

Keterangan lebih lanjut living cost di hasselt:

http://www.uhasselt.be/english/algemeen/student/costs.asp.

Untuk beasiswa ke belgia sebenarnya banyak peluang meski tidak sebanyak di belanda dimana stuned memberi beasiswa kpd 200 org student indonesia. Berikut beberapa program beasiswa yang diberikan untuk studi di Belgia:

1. Vliruos Scholarship: Beasiswa yang diberikan oleh konsorsium dari 6 universitas di Flemish Region (Region berbahasa belanda). Beasiswa diberikan untuk Training program (ITP) dan Master program (ICP). Karena memang difokuskan untuk student yang berasal dari negara2 afrika, setiap tahun hanya sekitar 5-10 student dari indonesia memperoleh beasiswa ini. Info lebih lanjut bisa dilihat di: http://www.scholarships.vliruos.be/

2. Erasmus mundus sholarship: Jumlah student dari Indonesia yang mendapatkan beasiswa ini lebih banyak dari vlir dan tiap tahun jumlahnya meningkat. Info lebih lanjut:

http://hafidztio.multiply.com/journal/item/68/tips_Erasmus_Mundus_scholarship

atau: https://setiopramono.wordpress.com/2008/12/19/tips-erasmus-mundus-scholarship/

3. CUD scholarship program. Program beasiswa yang diberikan oleh konsorsium universitas2 di daerah walloni (region berbahasa perancis). Belum terlalu banyak student dari Indonesia yang mendapatkan beasiswa ini. Info : http://www.cud.be/content/view/339/208/lang,/

4.  Beasiswa dari universitas. Ada beberapa universitas yang menyediakan beasiswa bagi student baik dari eropa maupun luar eropa. namun jumlah penerimanya sedikit. Untuk mengetahui beasiswa ini, hubungin professor dimana anda ingin melanjutkan studi dan mintalah saran dan info tentang kemungkinan untuk memperoleh beasiswa baik dari universitas maupun dari luar universitas.

Berikut ada tambahan informasi ttg beasiswa dari Agung di U Gent:

Univ Ghent juga menyediakan beasiswa untk master tahun kedua. Syarat nya kurang lebih : nilai mata kuliah pada tahun pertama, dan korelasi bidang pekerjaan kita dengan kuliah yg diambil. Beasiswa ini biasanya diikuti oleh mhs2 yg pada tahun pertama berkuliah di Ghent dengan biaya sendiri dan istri/suami mereka telah terlebih dahulu mendapat beasiswa dari VLIR utk berkuliah di Ghent. Besar beasiswa kurang lebih 800 euro. Jatah pertahun adalah 10 orang, dan tahun kemarin kira2 yg mendaftar sebanyak 100 orang.

link: http://www.ugent. be/en/research/ devcooperation/ Mastercall2009. pdf

Untuk lebih jelasnya tetang sistem pendidikan di belgia dapat dilihat di: http://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_Belgium

Berikut daftar universitas2 di Belgia:

· Catholic University of Louvain

· Katholieke Universiteit Leuven

· University of Hasselt

· Université Libre de Bruxelles

· University of Antwerp

· University of Ghent

· University of Liège

· University of Namur

· Vrije Universiteit Brussel

Untuk mencari part time job disini tidak terlalu mudah, tapi banyak kerja sampingan bagi student, spt bekerja di pabrik, restorant, perkebunan (http://hafidztio.multiply.com/journal/item/51/51) dll. Namun banyak kendala dikarenakan faktor bahasa, mengingat Belgia memiliki 3 bahasa nasional (Netherlands, French, and German). Dan sedikit berbeda dengan di Australia dan UK, untuk istri/suami dari student yang ikut menemani kesini, tidak diperbolehkan untuk bekerja (secara legal..).

Booklet lengkap mengenai pendidikan di Belgia bisa didapatkan di sini: Kuliah di Belgia.

Selamat berjuang..!!

Tio

December 19, 2008 Posted by | Uncategorized | | 70 Comments