Tio

Just wanna share my experience

Lomba Quick Count


Disebuah kelas mengenai peluang, seorang dosen mencoba memberi ilustrasi mengenai peluang dengan alat yang sederhana, kelereng. DImasukkannya 50 kelereng berwarna merah dan 50 kelereng biru kedalam sebuah kotak yang tertutup.

Guru: Didalam kotak ini ada kelereng dengan dua warna, merah dan biru. Coba siapa yang bisa menebak proporsi kelereng berwarna merah dan biru dengan cepat! Kalian boleh mengambil kelereng dari kotak tersebut, namun setiap kelereng yang kalian ambil, kalian harus membayar biaya tertentu.

Ada 3 mahasiswa yang maju dan melakukan percobaan:

Mahasiswa 1: Mengambil dengan acak 10 kelereng (dengan mata tertutup), menurut dia cukup untuk menjawab pertanyaan dosennya. Dan menghasilkan 6 kelereng merah dan 4 biru.

Mahasiswa 2: Karena sanggup membayar lebih, dia mengambil 20 kelereng, dimana 11 adalah merah dan sisanya biru.

Mahasiswa 3: mengambil dengan acak 12 Kelereng, menghasilkan 5 merah dan 7 biru.

 

Alhasil:

Mhs1: Merah 60% vs Biru 40%

Mhs2: Merah 55% vs Biru 45%

Mhs3: Merah 42% vs. Biru 58%

 

Dengan percaya dirinya mahasiswa  berkata:

 “Hitungan saya paling benar! “

 “Mahasiswa lain tidak kredibel!”

“Dan kalau bapak dosen menghitung langsung dari kotak tersebut dan hasilnya berbeda dengan saya, maka bapak hitungannya SALAH!!” pasti ada KECURANGAN!!!

 

Dosen :  ??&#!*$

 

 

 

 

 

 

July 12, 2014 Posted by | Indonesiaku | Leave a comment

Shipping From Stockholm to Jakarta


Moving is taft to do especially if we have limited budget for that. For people working in industry, usually they are provided a moving service by their company. But for academics like me, usually we have to arrange (and most of time pay) by ourself.

Based on my experience of  shipping  for moving from Stockholm, Sweden to Jakarta, Indonesia, there are two ways:

1. Direct Shipping

There is one shipping service  from Stockholm (our address) to Jakarta port (Tanjung Priok). The price is SEK 2700 for up to 1 cbm  =  8  “flyttkartonger”. For this service you can contact: Jan Sillén at jan@molineux.se.

But this service does not include cost in Custom (Bea Cukai) in Tanjung Priok (This is sometime more expensive that the shipping cost.. you know Indonesia lah….)  and delivery from Tanjung Priok to our address. However, there is a company PT. Quantum Indonesia Translogistic (http://quantumindonesia.com) who can help you to arrange this step.

Base on my experience this option is bit costly. I prefer the next option:

2. Non Direct Shipping

This option less cost, using two different companies and our box would transit in Germany.

Hence, it needs bit arrangement, please follow the steps:

1. Contact and ask  a shipping company Pulang kampung (http://pulangkampung.eu/) for information about the next shipping (usually every month).

2. Once you agree, fill the form and you would be given a container number and box number.

3. After the boxes are numbered,  and wrap nicely, next is to send them to pulang kampung warehouse (See their weskit for the address).

4. Contact http://www.fraktabilligt.se, for delivery from Stockholm to Germany. In their website you can check the cost directly. (The cost depends on the weight, but more boxes is cheaper). This service is half cheaper that ordinary shipping company, but we have to use an office address as pickup address. I used my department address in campus and had no problem.

5. Fill the form and they pay directly using your credit card. You will be given a document to be sticked in the box.

6. Wait until the company comes to pick the box, in my experience DHL pick and deliver my boxes to Germany. It takes around 1 week.

7. That’s it!

Note that the shipping pulang kampung from Germany can take 2-3 months, but the boxes would be sent directly to our address in Indonesia. So we do not need to face with bureaucracy in Custom in Tanjung Priok.

 

April 19, 2014 Posted by | Study abroad | Leave a comment

Bioinformatics Workshop, Indonesia


Bioinformatics Workshop, Jakarta, Indonesia, April 14-15 2015

bioinfo workshop 2014
Material for my courses is available at:

April 16, 2014 Posted by | Bioinformatics | , , , , , | Leave a comment

The Role of Statisticians in Personalized Medicine: An Overview of Statistical Methods in Bioinformatics


For the past decade, there is a huge amount if interest in determining the optimal treatment for an individual patient, the so-called personalized medicine. This is mostly achieved mostly by understanding the human genome leading to targeted treatments or regimes. Rapid advances in biotechnology resulting complex and huge amount data sets for answering complex biological questions. This development challenges statisticians in developing and implementing proper statistical methods.

This talk would provide a brief basic of molecular biology and an overview of statistical methods commonly used in the bioinformatics research focused on the analysis of gene expression in microarray and Next-Generation Sequencing. Statistical methods such as regularized-t test, ANOVA, multiple testing methods, classification and clustering would be presented. Cases studies in prostate cancer, malaria and breast cancer would discussed.

 The slide can be seen at: http://slideshare.net/hafidztio/bioinformatics-tekfis-its

 

 

 

March 13, 2014 Posted by | Uncategorized | , , | Leave a comment

Optimalkan Manfaat Kartu Sehat Seperti di Skandinavia


Pelayanan kesehatan merupakan hal utama  dan memegang peranan utama dalam pembentukan masyarakat yang sehat dan bermartabat. Hal ini sudah mulai diperhatikan oleh beberapa Pemerintahan Daerah seperti dengan adanya Kartu Sehat di Solo, Kartu Jakarta Sehat (KJS) di Ibukota dan rencananya Kartu Juara di Bandung.  Besar harapan masyarakat akan terlaksananya semacam kartu asuransi ini yang dapat membantu rakyat menengah kebawah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang prima.

Selain tujuan utama tersebut, kartu-kartu sehat ini sebenarnya memiliki keuntungan lainnya jika dapat dipergunakan dan dikelola dengan baik. Di negara-negara maju seperti negara-negara skandinavia dimana sistem pelayanan kesehatannya maju, selain menfokuskan pada pelayanan dan tindakan, tetapi juga pengumpulan data-data dari system tersebut yang digunakan dalam peningkatan pelayanan kesehatan, pencengahan dan pengobatan, mengurangi kejadian malpraktek, dan efisiensi baik dari segi pelayanan dan keuangan dalam skala makro atau pun mikro.

Sistem asuransi dan pelayanan kesehatan yang terpadu dengan sistem database lainnya seperti data kependudukan, register pasien masuk rumah sakit, diagnosa penyakit, obat yang diberikan, database kecelakan dan lain-lainnya mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, dan yang jelas meningkatkan standar kesehatan rakyatnya.

Sistem Kesehatan terpadu Swedia

Negara-negara Skandinavia yang dikenal dengan catatan kependudukannya yang lengkap dan terpadu menjadi salah satu rujukan oleh PBB dalam hal  pengembangan statistik pemerintahan, kependudukan, sistem informasi kesehatan dan lain lain. Data yang didapatkan dari sistem terebut menjadi ladang bagi penelitian di seluruh dunia yang berujung pada peningkatan sistem dan kualitas hidup warganya.

Di Swedia asuransi kesehatan warganya adalah gratis dan dibebankan pada pajak yang didapat dari warganya. Setiap warga memiliki akses yang sama terhadap pelayanan kesehatan. Sistemnya juga mirip di Indonesia dimana pelayanan dimulai di unit kecil puskesmas (ward central). Saat kita berkunjung ke rumah sakit atau puskesmas di Swedia yang diperlukan adalah Personal Identity Number/Personnummer atau kalau di Indonesia mirip dengan Nomor Induk Kependudukan yang ada di KTP kita. Dengan PIN ini data kita akan otomatis tercatat dan dapat langsung tergabung dengan data lainnya. Resep obat pun  berupa elektronik resep dan diambil di apotik dengan sekali lagi menggunakan PIN kita.

Sistem kesehatan ini adalah bagian dari banyak database yang terintegrasi seluruh Swedia.  Semua sistem tersebut didukung pemerintah dengan memberikan hamper 10% dari GPD untuk pelayanan kesehatan dan medis warganya.

Dengan adanya sistem yang terintegrasi dan “well connected”, pengumpulan data statistik dasar sebagai bahan perencanaan pembangunan pemerintah menjadi lebih mudah. Riset-riset dengan menggunakan data tersebut atau yang dikenal dengan istilah register-based research dapat dilakukan oleh berbagai pihak seperti universitas atau lembaga riset lainnya, baik berkenaan dengan kesehatan, kependudukan maupun social ekonomi.

Di Swedia penelitian semacam itu sudah banyak sekali dilakukan dan berdampak besar pada kebijakan publik. Seperti hasil riset terakhir menyimpulkan bahwa memberikan bantuan kepada miskin memberikan efek negatif mereka akan miskin terus ini salah satunya karena yang diberi bantuan cenderung menjadi pasif. Berdasarkan riset ini pemerintah mencari solusi lain untuk pengentasan kemiskinan.

Bagaimana Implementasi di Indonesia?

Key point dari system pelayanan kesehatan dan pendataan yang terpadu yang dijelaskan diatas adalah dengan penggunaan Personal Identification Number yang mampu menghubungkan berbagai database yang ada, baik pada pemerintahan local maupun pusat.

Indonesia telah mulai memperkenalkan Nomor Induk Kependudukan sebagai single identity number yang nantinya akan tercantum setiap Dokumen Kependudukan dan dijadikan dasar penerbitan KTPpasporSIMnomor pokok wajib pajakpolis asuransi, dan penerbitan dokumen identitas lainnya.  Terlepas dari beberapa kelemahan dari NIK seperti yang saya bahas sebelumnya di tautan ini, rencana tersebut sangat bermanfaat nantinya jika implementasinya tepat.

Pada gambar di bawah ini terlihat bahwa NIK telah menjadi salah satu field dari KJS.  NIK dalam KJS ini dapat gunakan untuk menautkan dengan system pendataan lainnya oleh suku-suku dinas dalam ruang lingkup Pemda tersebut dan juga dengan data nasional melalui BPS.

Karena KJS saat ini masih bersifat pilot project (baru 1.7 juta dari 4.7 juta yang direncanakan), dapat dijadikan pilot juga untuk system integrasi data antara penyelanggaran pelayanan kesehatan (rumah sakit) dan Pemda seperti data kependudukan, pendidikan dan lain lain.

Image

Foto: shnews

Sebagai contohnya andai KJS ini sudah terhubungkan dengan semua data tersebut, selain statistik dasar seperti penyakit yang sering diderita, dengan mudah kita dapat melihat hubungan antara penyakit tertentu dengan tempat tinggal, tingkat pendidikan dan pekerjaan.  Lokasi mana yang rawan akan penyakit tertentu tentunya akan dapat kita cegah dengan adanya data ini. Kita juga dapat memonitor berkembangnya penyakit-penyakit menular di masyarakat.

Sebagai contoh pasien yang terkena terkena kanker paru paru, dengan system ini kita dengan mudah dapat  merunut (trace) medical record, untuk mengetahui perkiraan penyebabnya, baik itu life style, lokasi tempat tinggal (dengan menautkannya dengan catatan kependudukan), pekerjaan (dinas pekerjaan),  dan sebagainya. Bahkan kita bisa merunutnya dengan riwayat dari orang tua atau saudaranya yang mungkin penyakit tersebut diturunkan.

Jika kita memiliki data obat yang diberikan, kita juga dapat melihat apakah obat tersebut manjur dan juga dari sisi keuangan Pemda dapat mengefisiensikan obat yang di salurkan ke puskesmas dan mengurangi kebocoran dan penyalahgunaan.

Data tersebut pastinya akan menjadi tambah emas bagi para peneliti baik dalam dan luar negeri yang kedepannya akan memberikan input untuk peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakatnya. Para mahasiswa dari perguruan tinggi setempat dapat dilibatkan baik dalam pengelolaan, penelitian serta implementasi hasil riset tersebut.

Masih banyak lagi keuntungan yang akan di dapat jika system integrasi ini diterapkan. Semoga sistem jaminan sosial yang telah dan akan ada seperti KJS atau Kartu Juara, serta kartu sehat lainnya di Indonesia mampu melakukan integrasi ini dengan tetap mengacu sistem nasional yang terintegrasi yang nantinya kita dapat memiliki sistem yang terintegrasi secara nasional.

http://news.detik.com/read/2013/09/17/054755/2360578/103/1/optimalkan-manfaat-kartu-sehat-seperti-di-skandinavia

November 26, 2013 Posted by | Uncategorized | | 3 Comments

Tembok Berlin Modern yang Terlupakan


Beberapa waktu lalu kami sekeluarga berkunjung ke Berlin untuk kesekian kalinya dan mampir ke tembok Berlin, seperti Brandenburg Tor dan Checkpoint Charlie. Melihat tembok Berlin saya selalu teringat akan tembok lainnya yang berada 3000 km dari Berlin.

Image

Tembok Berlin

Tembok dengan tinggi hampir 4 meter ini terbentang sepanjang 155 km membelah kota Berlin memisahkan  antara Jerman Barat dan Jerman Timur.  Tembok yang dibangun pada bulan 13 agustus tahun 1961 dan memiliki 302 tower ini menjadi simbol perang dingin  antara negara blok Timur (Uni Soviet) dan blok Barat (US dan sekutunya).  Tembok ini menjadi pemisah antara keluarga, saudara yang dahulunya dapat saling mengunjungi, dengan adanya tembok itu menjadi tidak mungkin untuk berkunjung atau bahkan berkomunikasi.

Seiring perubahan politik di Jerman Timur dan penduduknya yang mulai jengah akan kondisi di negaranya, mereka mulai melakukan pergerakan dan demostrasi dan beberapa kerusuhan sipil yang akhirnya pada tanggal 9 November 1989 tembok Berlin mulai dihancurkan.

Selama 28 tahun tembok ini berdiri, banyak orang yang mencoba kabur dari  Jerman Timur dengan melewatinya namun kebanyak tidak berhasil dan lebih dari 200 orang yang tewas tertembak.

Gambar berikut adalah beberapa runtuhan tembok Berlin yang dipajang di daerah Postdamerplatz

Image

Tembok Pemisah Palestina

Jika tembok Berlin saat ini sudah runtuh, 3000 km di bagian bumi lainnya ada beberapa tembok yang jauh lebih panjang dan tinggi dan masih dibangun yakni Israeli West Bank barrier dan  Israeli Gaza Strip barrier dua tembok pemisah di antara daerah negara penjajah zionis Israel dan Palestina.

Tembok dengan panjang 700 km dan sebagian memiliki tinggi hingga 8 m ini tidak hanya menghancurkan ribuan rumah rakyat Palestina namun juga memisahkan keluarga Palestina  di West Bank dan Gaza juga penduduk Palestina yang berada di dalam wilayah caplokan Israel.

Tembok ini dengan adalah sebuah tembok Berlin modern abad 21, sehingga tidak salah jika ada grafiiti yang menyatakan hal tersebut seperti terlihat di gambar berikut:

Image

sumber: Wikipedia

Beda kedua tembok ini adalah Tembok Berlin keruntuhannya di dukung oleh US sedangkan Tembok Israel pendiriannya didukung penuh oleh US dan sekutunya.

Semoga Tembok Berlin Modern yang jarang dicover oleh media ini akan cepat runtuh sehingga kedamaian kembali hadir di tanah suci berbagai agama tersebut. Serta menjadikan keluarga2 Palestine yang beragam agamanya tersebut tidak harus terhalang untuk saling bertermu keluarganya dan bisa hidup dalam alam kemerdakaan lagi seperti yang mereka dahulu dukung saat kemerdekaan negara kita tercinta ini.

http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/06/24/tembok-berlin-modern-yang-terlupakan-571518.html

July 15, 2013 Posted by | Jalan-jalan | Leave a comment

Solusi Untuk Menghindari Raibnya e-Ticket Commuter Line


Beberapa hari ini di media nasional (1,23) diberitakan bahwa KAI rugi Rp 800 Juta karena 200 ribu single trip tiket elektronik (E-ticketing)  kereta listrik (KRL) Commuter line hilang (tidak dikembalikan oleh penumpang). Hal ini salah satunya karena penumpang ingin menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Jangan menyalahkan penumpang akan hal ini karena kalau sistemnya bagus hal ini tidak akan terjadi.

Ada beberapa solusi yang sebenarnya dapat dilakukan:

  1. Satukan kartu elektronik multi trip dan single trip menjadi satu kartu saja.  Kartu ini dibeli oleh penumpang (misal seharga Rp 4000) dapat diisi ulang. Dengan sistem ini kartu tersebut jadi hak milik penumpang namun jika sudah selesai, kartu dapat dikembalikan dan uang nya dikembalikan ke penumpang. Sistem ini sudah diberlakukan di Stockholm (SL-access card stockholm,  http://sl.se/en/Visitor/Tickets/Sl-Access/)). Kalau perlu dibuat seri kartu yg unik sehingga penumpang tertarik untuk membeli baik untuk penggunaan setiap hari atau pun untuk koleksi.

 Image

sumber foto: http://www.svd.se/nyheter/stockholm/biljettsparr-forstorde-sl-kort_5884693.svd

  1. Solusi kedua gunakan tiket yang berbahan murah khusus untuk tiket jarak dekat/single trip. Seperti sistem di kota-kota besar seperti Brussels dan Paris. Namun untuk solusi ini mesinnya berbeda dengan sistem elektronik yang telah ada sekarang yang hanya didekatkan ke mesin.

 Image

sumber foto: http://equivocality.com/2011/06/11/france-day-9-paris/

 Image

sumber foto: http://www.brussels-belgium-travel-guide.com/brusselsmetro.html

Masih banyak lagi mungkin solusi yang ada mengingat masing-masing kota besar di dunia memiliki sistem tiketing yang berbeda-beda. 

Semoga ada peningkatan pelayanan dari KAI dan juga disertai dengan pengertian masyarakat/penumpang untuk menjaga fasilitas umum.

 

http://jakarta.kompasiana.com/transportasi/2013/07/02/solusi-untuk-menghindari-raibnya-e-ticket-commuter-line-573508.html

July 1, 2013 Posted by | Indonesiaku | , | Leave a comment

Kumpulan Tips dan Trik untuk Mendapatkan Beasiswa


Mendapatkan beasiswa  terutama untuk belajar ke luar negeri bukan hal yang mudah didapatkan. Tautan ini memberikan gambaran langkah-langkah apa saja yang seyogyanya dilakukan guna mendapatkan mimpi itu: Bagaimana Meraih Beasiswa untuk belajar di Luar Negeri?

Tautan ini Carilah Ilmu Sampai ke Negeri Tintin memberikan gambaran secara specifik mengenai perkuliahan di Belgia. Dari daftar universitas,  hingga side job.

Salah satu syarat yang sangat penting dan kadang menjadi kendala bagi pelajar dari Indonesia adalah motivation statement, dua tautan berikut memberikan illustrasi motivation statement yang diperlukan dalam proses screening beasiswa terutama untuk beasiswa program Master (S2): A Sample of MOTIVATION STATEMENT for Master Scholarship dan Another MOTIVATION FOR APPLYING FOR A SCHOLARSHIP Sample.

Tentunya setelah lulus Progam Master kita ingin meraih ke jenjang selanjutnya, berikut tipsnya: Tips untuk mengejar PhD, serta contoh surat lamarannya: Cover letter sample for a PhD position application.

Ragu karena sudah berkeluarga? Ingin membawa keluarga turut serta dalam masa perkuliahan di Luar Negeri? Baca tautan ini sebelum membuat keputusan: Tantangan membawa keluarga selama kuliah di Eropa.

Selamat berjuang kawan!

http://edukasi.kompasiana.com/2013/06/15/tips-dan-trik-untuk-mendapatkan-beasiswa-568964.html

June 19, 2013 Posted by | Scholarship | | Leave a comment

Finding Accommodation for Visiting Researchers in Stockholm


Finding an accommodation in Stockholm, especially inside the city is a nightmare due to its lack of availability and the price (especially for academics). I had to move four times at the first month in Stockholm. So moving several times is common here.

Below I listed several options based on my preferences (as a postdoc here)  for accommodations especially for visiting researchers in Stockholm:

1. Wenner-Gren Center Apartment
2. University Accommodation Center AB
3. Stockholm Bostad
4. Botkyrkabyggen

5. Blocket 

To my experience, Wenner gren apartment is the best apartment but it has really long queue, so you need to apply immediately. Please check the requirements for WGC before you apply!

For Stockholm Bostad you need to pay a registration fee, but for Botkyrkabyggen is free. For the blocket website, please be careful for scams. Always meet the landlord and see first the apartment, and discuss with the locals. Don’t send money before you see the apartment, don’t trust photos etc. If it’s too good to be true, don’t trust it.

Good luck!

June 19, 2013 Posted by | Study abroad | , | 5 Comments

Nomor Induk Kependudukan pada e-KTP, Kelemahan dan Harapan (Berkaca pada Negara Swedia)


Terlepas dari polemik untuk sisi teknologinya, isu apakah e-KTP dapat difoto copy atau tidak atau sangkaan korupsi dananya, ada hal lain yang tidak kalah pentingnya yang melekat di dalam e-KTP tersebut yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat dan jarang dibahas yakni Nomor Induk Kependudukan (NIK). Meski ada suara skeptis mengenai dana proyek ini, pengadaan sistem Single Identity Number (SIN) ini memang sebuah terobasan baru yang jika dapat diimplementasikan dengan benar maka dipastikan akan menguntungkan rakyat.

Nomor Induk Kependudukan  (NIK)

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 yaitu tentang administrasi kependudukan Nomor Induk Kependudukan  (NIK)  adalah nomor identitas penduduk yang bersifat unik atau khas, tunggal dan melekat pada seseorang yang terdaftar sebagai penduduk Indonesia dan berlaku seumur hidup dan selamanya. NIK ini ditentukan dan dikelola oleh Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil dari Kementerian Dalam Negeri.

NIK terdiri dari 16 digit dimana 6 digit pertama adalah informasi mengenai tempat dimana NIK diterbitkan (2 digit kode provinsi, 2 digit kode kota/kabupaten, dan 2 digit kode kecamatan). Enam digit selanjutnya merupakan tanggal lahir dalam format tanggal bulan tahun (untuk wanita tanggal ditambah 40). Sedangkan 4 digit terakhir merupakan nomor urut yang dimulai dari 0001.

NIK diharapkan akan tercantum setiap Dokumen Kependudukan dan dijadikan dasar penerbitan KTPpasporSIMnomor pokok wajib pajakpolis asuransi, dan penerbitan dokumen identitas lainnya (1).

Salah satu prinsip dari Single Identity Number yang ideal adalah harus unik dan khas dan tidak tergantung akan atribut dari pemilik yang berubah. Yang menjadi permasalahan dalam NIK yang digunakan saat ini adalah 6 digit awal yang merupakan kode lokasi dimana NIK diterbitkan. Hal ini menjadi rancu antara tempat lahir atau tempat diterbitkan nya NIK. Di website Kemendagri (1) diberikan contoh sebagai berikut:

Sebagai contoh, misalkan seorang perempuan lahir di Kota Bandung tanggal 17 Agustus 1990 maka NIK-nya adalah: 10 50 24 570890 0001. Apabila ada orang lain (perempuan) dengan domisili dan tanggal lahir yang sama mendaftar, maka NIK-nya adalah 1050 24 570890 0002.”

Dari contoh ini dapat kita simpulkan bahwa 6 digit kode awal adalah kode tempat lahir. Jika merujuk kepada penjelasan sebelumnya di website yang sama, 6 digit awal tergantung dimana orang tersebut berdomili pada saat NIK diterbitkan. Pada contoh tadi perempuan tersebut belum tentu akan tetap tinggal di tempat kelahirannya.

Jika 6 digit awal tersebut adalah kode untuk domisili, bagaimana kalau orang tersebut pindah kota atau provinsi, misal dari Jakarta Pusat kode 01 60 ke kabupaten Jaya Papua kode 25 01, 6 digit kode awal menjadi tidak relevan lagi dan memungkinkan untuk membuat kebingungan dalam administrasi. Padahal Pemerintah sudah menyatakan NIK tidak berubah meski domisili berpindah (2).

Janto Marzuki yang berpengalaman puluhan tahun menjadi database designer perusahaan raksasa Ericsson dan kini telah menetap di Swedia mengungkapkan bahwa  konstruksi dari NIK dengan segala kelemahan diatas jika dilihat dari sudut database design menjadikan NIK  tidak efektif.

e-KTP seumur hidup, bisakah?

Departmen Dalam Negeri mengusulkan bahwa e-KTP belaku seumur hidup. Untuk menilai apakah e-KTP kita dapat digunakan seumur hidup, mari kita lihat keterangan yang tertera didalamnya: Nama, tempat tanggal lahir, alamat, status pernikahan, agama, pekerjaan. Keempat data terakhir adalah data yang dapat berubah-rubah terutama alamat serta pekerjaan. Jika e-KTP berlaku seumur hidup, seseorang akan dapat berstatus mahasiswa abadi.

Terlepas dari kendala dan kekurangan diatas, jika sistem NIK ini telah  berjalan akan banyak sekali keuntungannya dari sistem administrasi yang lebih efisien hingga peningkatan kesehatan masyarakat jika NIK diintegrasikan dengan berbagai data base kesehatan.

Tidak semua negara maju mengaplikasikan sistem SIN ini. Jika ingin melihat bagaimana sistem SIN, kita harus menengok negara-negara Skandinavia yang lebih dari 60 tahun yang lalu telah mengaplikasikan sistem SIN yang lebih dikenal dengan istilah Personal Identity Number.

Personal Identity Number (PIN) di Swedia

PIN di Swedia laksana nomor keramat karena di semua sistem administrasi pasti digunakan. Bahkan untuk menyewa DVD, buku atau berlangganan telepon diperlukan nomor ini. Personal Identity Number (personnummer dalam bahasa Swedia) mulai diperkenalkan pada tahun 1947 kemudian pada tahun 1967 disempurnakan. PIN ini terdiri dari 10 angka (lebih mudah diingat dibandingkan NIK) yang terdiri dari tiga bagian, tanggal lahir (4 digit, tahun, bulan, tanggal), nomor urut lahir (3 digit) dan 1 digit untuk pengecekan. Contoh seorang laki-laki yang lahir pada tanggal 23 Agustus 1964 memiliki PIN: 640823-3234. 323 adalah nomor urut lahir (untuk laki laki digit terakhir ganjil dalam conton ini 3) dan digit terakhir adalah checking digit untuk mengetes kebenaran PIN tersebut. Setiap orang yang lahir di Swedia dan pendatang yang akan tinggal lebih dari satu tahun akan mendapatkan PIN (3).

PIN Swedia pada awalnya dikelola oleh pemda, namun mulai tahun 1991 dikelola oleh kantor pajak nasional (skatteverket). PIN atau personnummer ini digunakan luas sebagai kode identitas tidak hanya dalam catatan kependudukan, tapi juga untuk sistem perpajakan, perbankan, asuransi, kesehatan, SIM, pasport dan pendidikan. Setiap orang yang memiliki PIN maka akan ditanggung oleh asuransi nasional serta mendapatkan pendidikan gratis (dibayar dari pajak).

PIN ini menjadi nomor kunci (key number) yang menghubungkan antara berbagai data nasional. Di bidang kesehatan, PIN menghubungkan berbagai catatan/database (register data) antara lain catatan pasien, kanker, kecelakaan, kematian, pemberian resep obat, dan masih banyak lagi. Dengan adanya sistem ini, kita dengan mudah dapat mengikuti pasien serta catatan medis mereka.

Data yang ada dari sistem ini laksana harta karun bagi para peneliti di seluruh dunia, karena tanpa perlu membuat percobaan atau study lapang lagi, sesungguhnya Swedia laksana laboratarium besar yang dapat langsung dianalisa datanya. Sebagai contoh, jika ada seorang terdiagnosa terkena kanker paru paru, kita bisa merunut (trace) medical record, untuk mengetahui perkiraan penyebabnya, baik itu life style, lokasi tempat tinggal (dengan menautkannya dengan catatan kependudukan), pekerjaan (data kementrian pekerjaan), dan sebagainya. Bahkan kita bisa merunutnya dengan riwayat dari orang tua atau saudaranya yang mungkin penyakit tersebut diturunkan. Masih banyak lagi tentunya keuntungan dari PIN ini.

Di bidang perbankan, setiap kita membuka rekening, kita diharuskan memiliki PIN, sehingga dengan mudah kita bisa mengetahui jika ada seorang oknum DPR atau pemerintah yang memiliki rekening gendut. Hal ini akan mengurangi tindak kejahatan perbankan. Tapi mungkin yang di Indonesia perlu adanya desakan dari masyarakat dalam implementasinya.

Bagaimana kalau ada data yang berubah?

Kartu identitas (ID Card) di Swedia, hanya berisikan data-data yang jarang/ tidak berubah seperti nama, tempat dan tanggal lahir serta tanggal berlaku. Alamat tidak disertakan karena atribut yang satu paling mungkin berubah. Lalu bagaimana kalau data-data lain diperlukan, seperti jumlah anggota keluarga (Kartu Keluarga), domisili dan perkejaan? Informasi tersebut dengan mudah kita dapatkan dengan langsung datang ke kantor pajak atau online dalam bentuk printout yang dikenal dengan istilah Personbevis (surat keterangan diri). Personbevis  berisi keterangan lengkap kita ataupun sekeluarga, seperti Kartu Keluarga. Personbevis  berlaku hanya 3 bulan karena  informasi di dalamnya bisa berubah-rubah (seperti alamat).  Tapi jangan takut, kita bisa memintanya lagi.  Dengan system seperti ini ID card dapat berlaku lebih lama, sedangkan untuk data yang berubah-rubah kita bisa menggunakan Personbevis.

PIN di negara-negara Skandinavia lainnya.

Negara-negara tetangga Swedia juga memiliki sistem yang sangat mirip dan diterapkan di waktu yang hampir bersamaan (tahun 1960an) sehingga menjadi rujukan internasional oleh PBB (4). Sistemnya hampir sama dimana 6 digit awal adalah kode tanggal lahir dan 4 digit (Denmark) atau 5 digit (Finland, Norwegia) terakhir adalah kode lainnya (nomor urut dan kode kontrol).

Dengan berlimpahnya data dari berbagai macam database kesehatan yang terkoneksi dengan PIN tersebut, negara Skandinavia mampu meningkatkan kualitas kesehatan serta kesejahteraan penduduknya. Sebuah penelitian di Denmark menunjukkan bahwa pasien kanker akan memiliki peluang hidup lebih lama jika kemoterapi diterapkan semenjak diagnose kanker dibandingkan jika kemoterapi diberikan setelah pesien tersebut berada pada stage kanker tertentu.

Study lainnya dibidang psikologi masih di Denmark, mengungkapkan bahwa factor lingkungan seperti infeksi virus sebelum kelahiran serta musim pada saat kelahiran mempengaruhi perkembangan penyakit Schizophrenia dan Bipolar Disorder (5).

Berdasarkan data register kembar (Twin Register) Swedia,  bayi dengan berat  saat lahir rendah lebih rentan terhadap penyakit asma, sedangkan bayi dengan berat berada pada risiko yang lebih besar eksim pada masa anak-anak (6).

Masih banyak lagi hasil temuan yang semuanya menggunakan database yang terkoneksi dengan PIN ini. Semoga dengan adanya NIK ini kedepannya Indonesia mampu meningkatkan dan meratakan kesejahteraan rakyatnya. Masih panjang perjalanan penyempurnaan system e-KTP ini. Kita masyarakat diharapkan mampu memantau implementasi program yang sangat bermanfaat ini.

Referensi:

  1. http://www.kemendagri.go.id/article/2010/02/09/nomor-induk-kependudukan.
  2. http://www.antaranews.com/view/?i=1190049256&c=NAS&s.
  3. Jonas F. Ludvigsson, Petra Otterblad-Olausson, Birgitta U. Pettersson, and Anders Ekbom. 2009. The Swedish personal identity number: possibilities and pitfalls in healthcare and medical research. Eur J Epidemiol. 24(11): 659–667 (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2773709/).
  4. Register-based statistics in the Nordic countries: Review of best practices with focus on population and social statistics, United Nations, New York & Geneve, 2007.
  5. Lone Frank. 2000. When an Entire Country Is a Cohort. Science 31. Vol. 287 no. 5462 pp. 2398-2399 http://www.sciencemag.org/content/287/5462/2398.summary.
  6. http://www.ashwellpharmacy.co.uk/index.php?option=com_static&task=view&id=472&Itemid=15

http://news.detik.com/read/2013/05/24/205633/2255567/103/e-ktp-kelemahan-dan-harapan-berkaca-pada-swedia?9922022

May 24, 2013 Posted by | education | , | Leave a comment